LANGIT7.ID- Narasi populer sering menggambarkan Nabi Muhammad sebagai sosok yang hidup serba kekurangan. Potret itu seakan menegaskan kesalehan datang dari kefakiran. Tapi, jika ditelusuri lebih jauh lewat sumber sejarah, Nabi bukanlah figur miskin. Ia justru tumbuh di tengah aktivitas dagang internasional, menikah dengan saudagar kaya, dan sempat mengelola kekayaan besar yang menopang dakwah Islam.
Muhammad memang lahir yatim di Makkah sekitar tahun 570 M. Namun sejak muda ia dikenal jujur dan dipercaya untuk berdagang. Dalam
Muhammad: Man and Prophet (1995), Adil Salahi menulis bahwa reputasi Al-Amin membuat Muhammad dipercaya membawa kafilah dagang milik Khadijah ke Syam. Perjalanan itu membuahkan keuntungan besar, bahkan jauh melebihi pedagang lain.
Keberhasilan itu pula yang membuat Khadijah, seorang janda kaya raya, kemudian menikah dengannya. Sejarawan W. Montgomery Watt dalam
Muhammad at Mecca (1953) menyebut, setelah pernikahan, Muhammad ikut mengelola kekayaan Khadijah: tanah, ternak, dan jaringan perdagangan lintas Hijaz–Syam.
Baca juga: Kaya Tanpa Meminta, Perkasa Tanpa Menindas: Berakhlaklah dengan Akhlak Allah Kekayaan yang Menopang DakwahJumlah harta Nabi memang tidak pernah dicatat dalam angka pasti. Tapi berbagai sumber hadis dan sirah memberi gambaran. Ibn Hisham dalam
Sirah Nabawiyah meriwayatkan, rumah Nabi cukup luas untuk menampung tamu dan keluarga besar. Ia juga memiliki beberapa ekor unta, kuda, dan budak yang dibebaskan secara bertahap.
Menurut Tariq Ramadan dalam
In the Footsteps of the Prophet (2007), Muhammad bukan miskin, melainkan hidup sederhana: hartanya lebih banyak digunakan untuk membantu fakir miskin, membiayai perang, dan mendukung para sahabat yang berhijrah.
Bahkan, dalam
Shahih Bukhari disebutkan Nabi pernah menyumbang 100 ekor unta dalam perjanjian Hudaibiyah. Itu menunjukkan ia menguasai sumber daya besar.
Fazlur Rahman dalam
Islam (1984) menekankan, Nabi Muhammad mengajarkan konsep “kaya hati”, bukan glorifikasi kemiskinan. Kesederhanaannya lahir dari pilihan moral, bukan keterbatasan ekonomi.
Karen Armstrong dalam
Muhammad: A Prophet for Our Time (2006) menulis, Nabi bisa hidup mewah bila mau, namun ia lebih memilih memberi. Harta digunakan sebagai instrumen sosial—menolong kaum Muhajirin, memerdekakan budak, atau membangun masjid.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Memperkaya Diri dan Atau Suatu Korporasi Relevansi Hari IniDi era modern, narasi “Islam agama orang miskin” sering dipakai sebagai stigma. Padahal, sejak awal, kekuatan ekonomi adalah penopang dakwah. Seperti dicatat Ira M. Lapidus dalam
A History of Islamic Societies (2002), Islam berkembang pesat karena jaringan pedagang dan kelas menengah kota.
Maka, penting meluruskan: Nabi Muhammad bukan sosok miskin yang pasif, melainkan figur strategis yang paham kekuatan ekonomi. Kekayaan bukan musuh kesalehan, justru menjadi bagian dari risalah.
Jadi, siapa bilang Nabi Muhammad miskin? Ia memang hidup sederhana, tapi bukan papa. Kekayaannya nyata, namun diperlakukan sebagai amanah. Nabi menunjukkan: menjadi saleh bukan berarti menolak harta, melainkan menempatkannya di jalan yang benar.
(mif)