70 Orang Lebih Tewas dalam Demo Antikorupsi di Nepal, Diantaranya Mati Ditembak
Lusi mahgriefie
Selasa, 16 September 2025 - 09:05 WIB
Demo antikorupsi di Nepal, pekan lalu berujung ricuh. Sumber: ist
"Semua orang bilang peluru karet, peluru karet. Itu bukan peluru karet. Kalau kalian lihat anak saya, kepalanya pecah, ada lubang di sana."
Kalimat itu diucapkan seorang ibu di Nepal bernama, Narendra Shrestha. Ia ingin tahu siapa yang akan bertanggung jawab atas kematian putranya, Sulov, salah satu di antara puluhan korban tewas dalam kerusuhan berdarah yang mengguncang Nepal pekan lalu.
Begitu juga Shrestha (45), Ia berdiri di luar gerbang kamar jenazah Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan di ibu kota usai mengidentifikasi jenazah Sulov (21).
"Saya ingin bertanya kepada negara ini," katanya sambil menahan air mata, "kalau mereka bisa menembak, mereka bisa menembak anak saya, maka saya dan ibunya, juga akan berdiri. Untuk siapa kami akan hidup sekarang? Kami juga ingin mati." Melansir bbc.com, Selasa (16/9/2025).
Keluarga-keluarga lain juga menunggu untuk mengidentifikasi anak-anak muda yang mereka cintai yang hidupnya berakhir: satu bercita-cita menjadi hakim, yang lain adalah seorang mahasiswa yang bekerja di sebuah hotel di Kathmandu, dan yang ketiga sedang belajar bahasa Prancis.
Mereka termasuk di antara lebih dari 70 orang yang tewas dalam protes antikorupsi awal pekan lalu, yang menggulingkan pemerintahan negara Himalaya tersebut. Lebih dari 1.000 orang terluka dalam kerusuhan yang berlangsung selama dua hari tersebut.
Larangan media sosial menjadi pemicu protes, tetapi kemarahan terhadap korupsi pemerintah telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Ketika larangan tersebut dicabut pada Senin malam, 8 September, protes telah meluas menjadi gerakan yang lebih luas.
Kalimat itu diucapkan seorang ibu di Nepal bernama, Narendra Shrestha. Ia ingin tahu siapa yang akan bertanggung jawab atas kematian putranya, Sulov, salah satu di antara puluhan korban tewas dalam kerusuhan berdarah yang mengguncang Nepal pekan lalu.
Begitu juga Shrestha (45), Ia berdiri di luar gerbang kamar jenazah Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan di ibu kota usai mengidentifikasi jenazah Sulov (21).
"Saya ingin bertanya kepada negara ini," katanya sambil menahan air mata, "kalau mereka bisa menembak, mereka bisa menembak anak saya, maka saya dan ibunya, juga akan berdiri. Untuk siapa kami akan hidup sekarang? Kami juga ingin mati." Melansir bbc.com, Selasa (16/9/2025).
Keluarga-keluarga lain juga menunggu untuk mengidentifikasi anak-anak muda yang mereka cintai yang hidupnya berakhir: satu bercita-cita menjadi hakim, yang lain adalah seorang mahasiswa yang bekerja di sebuah hotel di Kathmandu, dan yang ketiga sedang belajar bahasa Prancis.
Mereka termasuk di antara lebih dari 70 orang yang tewas dalam protes antikorupsi awal pekan lalu, yang menggulingkan pemerintahan negara Himalaya tersebut. Lebih dari 1.000 orang terluka dalam kerusuhan yang berlangsung selama dua hari tersebut.
Larangan media sosial menjadi pemicu protes, tetapi kemarahan terhadap korupsi pemerintah telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Ketika larangan tersebut dicabut pada Senin malam, 8 September, protes telah meluas menjadi gerakan yang lebih luas.