home masjid

Al-Ghazali dan Seni Menyusun Prioritas: Ketika Sunnah Mengalahkan Wajib

Rabu, 17 September 2025 - 05:45 WIB
Para ulama menegaskan: umat sering terjebak dalam hierarki ibadah yang terbalik, menjadikan agama tampak saleh tapi rapuh. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah dunia Muslim yang riuh oleh semangat beragama, Imam al-Ghazali justru menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: kesadaran akan urutan prioritas. Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, ensiklopedia keagamaannya yang monumental, ulama kelahiran Thus itu mengingatkan betapa banyak orang tertipu oleh kesalehan semu—menekuni amal sunnah sambil melalaikan kewajiban.

“Tidak ada sesuatu yang dapat dipergunakan seseorang mendekatkan diri kepada-Ku seperti apa yang telah Aku fardhukan kepada mereka,” demikian hadis qudsi yang dikutip al-Ghazali untuk menegur orang-orang yang sibuk shalat malam tapi abai pada salat fardhu di awal waktu.

Al-Ghazali membagi kelompok orang tertipu itu: ahli ibadah, ahli ilmu, sufi, orang kaya, dan awam. Semua bisa terperangkap pada jebakan yang sama: menganggap ibadah tambahan lebih penting ketimbang kewajiban pokok. Dalam kitab Dzamm al-Ghurur, ia menulis tentang seseorang yang begitu hati-hati dalam berwudhu, sampai-sampai berlebihan dan keras pada keluarganya, tapi di saat yang sama dengan enteng mengonsumsi makanan haram.

Baca juga: Fikih Prioritas: Mendidik Sebelum Mengangkat Senjata

Dalam pandangan al-Ghazali, ini bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan kegagalan dalam menata prioritas syariat. Amal yang keliru urutannya bisa berubah menjadi kemaksiatan.

Enam abad setelah al-Ghazali, ulama kontemporer Yusuf al-Qaradawi menghidupkan kembali gagasan itu. Dalam Fiqh Prioritas(1996), ia menyebut konsep ini sebagai fiqh al-awlawiyat. Baginya, kebangkitan Islam mustahil tanpa pemahaman prioritas: mendahulukan yang wajib atas sunnah, yang fardhu ‘ain atas fardhu kifayah, yang lebih mendesak atas yang longgar.

Al-Qaradawi menilai pemikiran al-Ghazali penting di tengah “kebangkitan Islam” abad ke-20, ketika sebagian gerakan keagamaan terjebak pada simbol dan ritual, tapi abai pada isu pokok: keadilan, keilmuan, dan maslahat umat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya