home masjid

Perhiasan Dunia: Menafsir Ulang Kedudukan Istri dalam Keluarga

Kamis, 18 September 2025 - 04:15 WIB
Bagi keluarga Muslim, perhiasan itu bukan sekadar dilihat, tetapi dirawat, dihargai, dan disyukuri. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suatu hari, Abdullah bin Umar meriwayatkan sabda Nabi Muhammad: “Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah.” (HR Muslim). Sebuah hadis singkat, tetapi panjang jejak tafsirnya.

Bagi banyak orang, kata “perhiasan” mengisyaratkan sesuatu yang indah sekaligus bernilai. Namun, ketika dikaitkan dengan perempuan, perumpamaan ini bisa terasa problematis. Apakah istri sekadar aksesori rumah tangga, ataukah ia adalah pusat penopang keluarga?

Dalam kitab Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa istri salehah digambarkan sebagai pendamping yang menjaga kehormatan suami, rumah tangga, dan harta. Tafsir klasik sering mengaitkan kesalehan dengan kepatuhan mutlak kepada suami.

Tetapi sejumlah pemikir modern melihat hadis ini bukan tentang subordinasi, melainkan tentang nilai. Asma Barlas dalam Believing Women in Islam(2002) menekankan bahwa hadis ini harus dipahami dalam bingkai relasi timbal balik: istri salehah bukan hanya tunduk, tetapi juga mitra yang saleh—yang keberadaannya membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.

Baca juga: Perempuan di Panggung Politik Islam: Dari Hijrah hingga Kritik Kekuasaan

Istri sebagai “Modal Sosial”

Fazlur Rahman dalam Islam and Modernity(1982) menyebut keluarga sebagai unit terkecil peradaban Islam. Dari sinilah moral, pengetahuan, hingga stabilitas sosial dibangun. Dalam kerangka itu, istri salehah dapat dibaca sebagai “modal sosial”—ia bukan sekadar penghias, tetapi sumber daya yang menentukan keberlangsungan sebuah masyarakat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya