home masjid

Ibnu Arabi: Antara Murcia, Makkah, dan Misteri Puisi yang Membelah Dunia

Sabtu, 20 September 2025 - 18:40 WIB
Ibnu Arabi wafat di Damaskus pada 1240. Makamnya masih diziarahi ribuan orang setiap tahun. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Pada suatu malam di Sevilla, remaja bernama Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Arabi sedang menulis bait puisi. Ia menatap kosong ke arah langit Andalusia, menuliskan kata-kata cinta yang di mata para faqih tampak biasa saja, namun di hati para Sufi bergetar sebagai kunci rahasia Ilahi. Anak muda itu kelak dikenal dengan nama Ibnu Arabi (1165–1240), yang oleh para pengikutnya disapa asy-Syekh al-Akbar, Mahaguru terbesar tasawuf.

Ia bukan hanya penyair, tetapi juga filsuf, mistikus, sekaligus penantang ortodoksi. “Tidak ada penyair cinta yang lebih besar darinya, dan tidak ada seorang Sufi yang begitu dalam mengusik para teolog,” tulis R.A. Nicholson dalam pengantar Tarjuman al-Asywaq (Interpreter of Desires, 1911).

Ibnu Arabi mengaku keturunan Hatim ath-Tha’i, kepala suku pra-Islam yang dikenang dunia Arab karena kedermawanannya. Dalam tradisi Sufi, derma Hatim menemukan pantulannya dalam kemurahan rohani sang cucu jauh, yang memberi “makna baru pada cinta dan agama.”

Latar belakang spiritualnya tidak kalah unik. Sang ayah, seorang bangsawan Moor, pernah berguru pada Abdul Qadir al-Jilani (1077–1166), pendiri tarekat Qadiriyah. Para hagiograf bahkan menyebut Ibnu Arabi “lahir berkat doa Abdul Qadir”—tanda awal seorang anak yang ditakdirkan jadi anugerah.

Andalusia: Perpaduan Sains dan Spiritualitas

Andalusia abad ke-12 adalah peradaban lintas agama. Ibnu Arabi belajar fikih di Lisbon, menghafal hadis di Sevilla, hingga menghadiri kuliah ulama besar di Cordoba. Namun di luar ruang kelas, ia lebih betah bersama kaum darwis dan penyair. “Ia menguasai tradisi skolastik, tapi hatinya menetap di jalan Sufi,” catat Henry Corbin dalam Creative Imagination in the Sufism of Ibn ‘Arabi(1969).

Seperti al-Ghazali, ia mendamaikan ortodoksi dengan tasawuf. Bedanya, Ghazali berangkat dari filsafat menuju Sufisme, sementara Ibnu Arabi sejak awal hidup di dalamnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya