Menyebut Nama Perempuan: Jejak Lupa dalam Tradisi Muslim
Miftah yusufpati
Kamis, 25 September 2025 - 05:15 WIB
Kini, saat wacana kesetaraan kembali mengemuka, barangkali penting mengingat kembali apa yang sudah ditunjukkan Nabi: menyebut nama perempuan bukan aib, melainkan teladan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID – Madinah, abad ke-7 M. Malam itu, Rasulullah saw. berjalan dengan salah seorang istrinya, Shafiyyah binti Huyay. Dua lelaki Anshar lewat dan menyapanya. Rasul segera berkata: “Pelan-pelan sajalah kalian. Dia ini hanyalah Shafiyyah binti Huyay.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kisah kecil itu seolah sederhana. Tapi dari sana, kita melihat praktik yang hari ini jarang dibicarakan: Nabi saw. tak segan menyebut nama perempuan.
Dalam banyak riwayat, nama perempuan muncul jelas. Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, disebut karena salamnya mengingatkan Nabi pada istri pertamanya. Anas bin Malik menuturkan bahwa neneknya, Malikah, pernah menjamu Rasulullah. Aisyah bercerita bahwa kambing kiriman kembali ke rumahnya berkat Nasibah.
Ada pula Zainab, istri Abdullah bin Mas‘ud; Asma binti Umais; hingga Subaiah dari Bani Aslam. Bahkan kisah heroik Rubayyi binti Nadhar yang mengenali jasad saudaranya di Uhud. Semua nama perempuan itu tercatat gamblang dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Bagi pembaca modern, ini terasa kontras. Di banyak komunitas Muslim kini, menyebut nama perempuan kerap dianggap tabu.
Baca juga: Kolom Fiqih Sosial:Industrialisasi Outfit Olahraga Perempuan dalam Islam
Lebih jauh lagi, Nabi dan para sahabat tak jarang menisbahkan seseorang kepada ibunya. Abdullah bin Malik dikenal dengan nama ibunya, Buhainah. Muhammad bin Hubaib al-Lughawi dinisbahkan kepada ibunya, Hubaib. Bahkan seorang sastrawan ternama, Muhammad bin Syaraf al-Qairawani, juga diingat dari nama ibunya.
Kisah kecil itu seolah sederhana. Tapi dari sana, kita melihat praktik yang hari ini jarang dibicarakan: Nabi saw. tak segan menyebut nama perempuan.
Dalam banyak riwayat, nama perempuan muncul jelas. Halah binti Khuwailid, saudari Khadijah, disebut karena salamnya mengingatkan Nabi pada istri pertamanya. Anas bin Malik menuturkan bahwa neneknya, Malikah, pernah menjamu Rasulullah. Aisyah bercerita bahwa kambing kiriman kembali ke rumahnya berkat Nasibah.
Ada pula Zainab, istri Abdullah bin Mas‘ud; Asma binti Umais; hingga Subaiah dari Bani Aslam. Bahkan kisah heroik Rubayyi binti Nadhar yang mengenali jasad saudaranya di Uhud. Semua nama perempuan itu tercatat gamblang dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Bagi pembaca modern, ini terasa kontras. Di banyak komunitas Muslim kini, menyebut nama perempuan kerap dianggap tabu.
Baca juga: Kolom Fiqih Sosial:Industrialisasi Outfit Olahraga Perempuan dalam Islam
Lebih jauh lagi, Nabi dan para sahabat tak jarang menisbahkan seseorang kepada ibunya. Abdullah bin Malik dikenal dengan nama ibunya, Buhainah. Muhammad bin Hubaib al-Lughawi dinisbahkan kepada ibunya, Hubaib. Bahkan seorang sastrawan ternama, Muhammad bin Syaraf al-Qairawani, juga diingat dari nama ibunya.