Cinta, Cemburu, dan Tawa di Rumah Rasululah SAW
Miftah yusufpati
Kamis, 25 September 2025 - 16:00 WIB
Hidup bersama sembilan perempuan, Nabi Muhammad menghadapi tuntutan, kecemburuan, hingga persaingan. Namun ia menjawabnya dengan humor, sabar, dan kasih yang lembut. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Rumah Nabi Muhammad di Madinah abad ke-7 tak pernah benar-benar hening. Dari dinding tanah liat dan tirai sederhana, kehidupan rumah tangga Nabi menyimpan hiruk pikuk khas keluarga besar: kecemburuan, candaan, pertengkaran, hingga rekonsiliasi. Semua terekam dalam hadis-hadis sahih, yang memperlihatkan sisi manusiawi seorang utusan Tuhan.
Sejarawan Karen Armstrong dalam Muhammad: A Prophet for Our Time (2006) menyebut, kehidupan rumah tangga Nabi menjadi ruang penting untuk memahami sisi personal beliau: seorang suami yang menghadapi perempuan-perempuan lantang, sekaligus belajar menengahi konflik dengan kelembutan.
Riwayat Jabir bin Abdullah (HR Muslim) menggambarkan satu momen tegang. Nabi duduk murung dikepung istri-istrinya yang menuntut belanja lebih. Abu Bakar dan Umar datang. Melihat suasana dingin, Umar melontarkan kelakar: “Seandainya putri Kharijah menuntut belanja kepadaku, niscaya aku akan mencekik lehernya.” Nabi tertawa, suasana mencair. Namun, Abu Bakar dan Umar tetap menegur putri mereka masing-masing, Aisyah dan Hafshah: “Apakah kalian menuntut sesuatu yang tidak beliau miliki?”
Baca juga: Menyebut Rupa Perempuan: Antara Hadis dan Tabu Sosial
Bagi Asma Barlas dalam Believing Women in Islam (2002), kisah ini menunjukkan dua hal: Nabi menghadapi tekanan domestik sebagaimana laki-laki lain, sementara para istri Nabi berani bersuara soal kebutuhan rumah tangga—suatu hal yang lazim di masyarakat patriarkal Quraisy.
Kisah lain dari Sa’ad bin Abi Waqqash (HR Bukhari-Muslim): Umar masuk ke rumah Nabi, mendapati perempuan-perempuan Quraisy berbicara keras. Begitu Umar datang, mereka berlarian ke balik tabir. Nabi tertawa: “Aku heran dengan ulah mereka. Mendengar suaramu, mereka bergegas.” Para perempuan menjawab lugas: “Ya, karena engkau lebih keras dibanding Rasulullah.”
Jawaban itu, menurut sejarawan Nabia Abbott dalam Two Queens of Baghdad (1946), menggambarkan keberanian perempuan Arab kala itu dalam menilai karakter laki-laki secara terbuka—bahkan di depan Nabi.
Sejarawan Karen Armstrong dalam Muhammad: A Prophet for Our Time (2006) menyebut, kehidupan rumah tangga Nabi menjadi ruang penting untuk memahami sisi personal beliau: seorang suami yang menghadapi perempuan-perempuan lantang, sekaligus belajar menengahi konflik dengan kelembutan.
Riwayat Jabir bin Abdullah (HR Muslim) menggambarkan satu momen tegang. Nabi duduk murung dikepung istri-istrinya yang menuntut belanja lebih. Abu Bakar dan Umar datang. Melihat suasana dingin, Umar melontarkan kelakar: “Seandainya putri Kharijah menuntut belanja kepadaku, niscaya aku akan mencekik lehernya.” Nabi tertawa, suasana mencair. Namun, Abu Bakar dan Umar tetap menegur putri mereka masing-masing, Aisyah dan Hafshah: “Apakah kalian menuntut sesuatu yang tidak beliau miliki?”
Baca juga: Menyebut Rupa Perempuan: Antara Hadis dan Tabu Sosial
Bagi Asma Barlas dalam Believing Women in Islam (2002), kisah ini menunjukkan dua hal: Nabi menghadapi tekanan domestik sebagaimana laki-laki lain, sementara para istri Nabi berani bersuara soal kebutuhan rumah tangga—suatu hal yang lazim di masyarakat patriarkal Quraisy.
Kisah lain dari Sa’ad bin Abi Waqqash (HR Bukhari-Muslim): Umar masuk ke rumah Nabi, mendapati perempuan-perempuan Quraisy berbicara keras. Begitu Umar datang, mereka berlarian ke balik tabir. Nabi tertawa: “Aku heran dengan ulah mereka. Mendengar suaramu, mereka bergegas.” Para perempuan menjawab lugas: “Ya, karena engkau lebih keras dibanding Rasulullah.”
Jawaban itu, menurut sejarawan Nabia Abbott dalam Two Queens of Baghdad (1946), menggambarkan keberanian perempuan Arab kala itu dalam menilai karakter laki-laki secara terbuka—bahkan di depan Nabi.