Aceh Serambi Makkah: Balairung, Ulama, dan Api Kitab yang Dibakar
Miftah yusufpati
Sabtu, 04 Oktober 2025 - 05:15 WIB
Di bawah Iskandar Muda, Aceh menjelma kosmopolitan: pusat perdagangan rempah, istana megah, hingga gelanggang ulama besar. Namun, di balik kejayaan, perdebatan teologi ikut membara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- “Betapa megahnya balairung Penguasa kita Yang Mulia. Banyak negeri di bawah dan atas angin telah kita lihat, tetapi dari semua istana raja-raja agung, tak satu pun bisa dibandingkan balairung Penguasa kita Yang Sempurna. Sungguh, negeri Aceh Dar al-Salam adalah serambi Mekah!”
Begitu catatan seorang pengelana abad ke-17, ketika menatap istana megah Kesultanan Aceh. Pada masa itu, di bawah Sultan Iskandar Muda (1607–1636), Aceh bukan sekadar kerajaan maritim di ujung Sumatra. Ia adalah pusat kosmopolitan yang menandingi hegemoni Melaka, sekaligus poros penyebaran Islam di Asia Tenggara.
Aceh masa Iskandar Muda sering digambarkan sebanding dengan kekuatan global: Portugis di Malaka, Mughal di India, hingga Utsmani di Istanbul. Kapal-kapal Gujarat merapat di pelabuhan Banda Aceh, memuat lada dan rempah-rempah, sementara istana megahnya mengundang kekaguman para pelaut Eropa.
Sejarawan Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. 2015) mencatat, para sultan Aceh bukan hanya penguasa politik, tetapi juga pembentuk narasi sejarah. Batu nisan lama raja-raja Pasai diganti, seolah-olah menegaskan kesinambungan: Aceh adalah pewaris sah awal mula Islam di kepulauan ini.
Bersama kejayaan politik, istana Aceh menjadi pusat intelektual Islam. Syams al-Din al-Sumatra’i (w. 1630), cendekiawan besar yang fasih berbahasa Arab, memainkan peran penting memperkenalkan filsafat mistis tujuh martabat wujud, gagasan yang dipengaruhi risalah Muhammad b. Fadl Allah al-Burhanpuri, ulama Gujarat.
Teologi itu rumit, tak untuk orang awam. Namun, bagi para sultan, ulama, dan patron istana, ia menandai posisi Aceh dalam jaringan intelektual Samudra Hindia. “Inilah wajah Islam kosmopolitan, terhubung ke India, Yaman, dan Arab,” tulis Laffan.
Meski begitu, hubungan istana dan ulama tak selalu harmonis.
Begitu catatan seorang pengelana abad ke-17, ketika menatap istana megah Kesultanan Aceh. Pada masa itu, di bawah Sultan Iskandar Muda (1607–1636), Aceh bukan sekadar kerajaan maritim di ujung Sumatra. Ia adalah pusat kosmopolitan yang menandingi hegemoni Melaka, sekaligus poros penyebaran Islam di Asia Tenggara.
Aceh masa Iskandar Muda sering digambarkan sebanding dengan kekuatan global: Portugis di Malaka, Mughal di India, hingga Utsmani di Istanbul. Kapal-kapal Gujarat merapat di pelabuhan Banda Aceh, memuat lada dan rempah-rempah, sementara istana megahnya mengundang kekaguman para pelaut Eropa.
Sejarawan Michael Laffan dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. 2015) mencatat, para sultan Aceh bukan hanya penguasa politik, tetapi juga pembentuk narasi sejarah. Batu nisan lama raja-raja Pasai diganti, seolah-olah menegaskan kesinambungan: Aceh adalah pewaris sah awal mula Islam di kepulauan ini.
Bersama kejayaan politik, istana Aceh menjadi pusat intelektual Islam. Syams al-Din al-Sumatra’i (w. 1630), cendekiawan besar yang fasih berbahasa Arab, memainkan peran penting memperkenalkan filsafat mistis tujuh martabat wujud, gagasan yang dipengaruhi risalah Muhammad b. Fadl Allah al-Burhanpuri, ulama Gujarat.
Teologi itu rumit, tak untuk orang awam. Namun, bagi para sultan, ulama, dan patron istana, ia menandai posisi Aceh dalam jaringan intelektual Samudra Hindia. “Inilah wajah Islam kosmopolitan, terhubung ke India, Yaman, dan Arab,” tulis Laffan.
Meski begitu, hubungan istana dan ulama tak selalu harmonis.