Senjata Tanpa Bunyi: Ijtihad Rohani di Era Digital
Miftah yusufpati
Kamis, 09 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Ketika doa berpindah dari mihrab ke media sosial, maknanya bergeser dari ritual ke ruang publik. Namun di balik layar, manusia tetap sama: mencari tenang, mencari Tuhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Panas sore di Cikini mulai mereda. Di serambi masjid kecil di belakang toko buku, seorang pria paruh baya menengadahkan kedua tangannya—pelan, nyaris tanpa suara. Ia berdoa. Dari luar, mungkin tampak sederhana. Tapi bagi banyak muslim, di situlah titik paling sunyi sekaligus paling kuat dari manusia: saat memohon.
“Doa itu bukan sekadar ritual,” kata Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1994). “Ia adalah pengakuan bahwa manusia ini lemah. Ia bentuk tertinggi dari penyerahan diri.”
Dalam kitab klasik al-Manhaj al-Islami, doa disebut sebagai silah al-mu’min—senjata orang beriman. Sebagaimana dikutip laman almanhaj.or.id (2023), doa bukan hanya ucapan, melainkan energi rohani yang menjadi pelindung dari kesombongan. “Barang siapa enggan berdoa,” tulis artikel itu mengutip surah Gafir ayat 60, “akan masuk neraka dalam keadaan hina.”
Rasulullah Muhammad SAW berdoa di lembah Badar dengan tubuh gemetar. Pasukannya hanya tiga ratusan orang, berhadapan dengan seribu tentara Quraisy. “Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tak ada lagi yang menyembah-Mu di bumi,” demikian sabdanya (HR Muslim).
Itulah yang disebut doa dalam bentuk paling ekstrem—sebuah pertempuran antara keyakinan dan kenyataan. Doa menjadi ruang transendensi di tengah gentingnya hidup.
Kini, berabad-abad setelah Badar, medan perang mungkin berubah. Tapi keperluan akan doa tetap sama. Dalam era penuh kecemasan—pandemi, ekonomi yang ringkih, dan perang wacana di media sosial—doa seakan kembali menjadi “senjata terakhir” orang beriman.
Baca juga: Keadilan dalam Pandangan Islam: Dari Doa hingga Zakat
“Doa itu bukan sekadar ritual,” kata Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1994). “Ia adalah pengakuan bahwa manusia ini lemah. Ia bentuk tertinggi dari penyerahan diri.”
Dalam kitab klasik al-Manhaj al-Islami, doa disebut sebagai silah al-mu’min—senjata orang beriman. Sebagaimana dikutip laman almanhaj.or.id (2023), doa bukan hanya ucapan, melainkan energi rohani yang menjadi pelindung dari kesombongan. “Barang siapa enggan berdoa,” tulis artikel itu mengutip surah Gafir ayat 60, “akan masuk neraka dalam keadaan hina.”
Rasulullah Muhammad SAW berdoa di lembah Badar dengan tubuh gemetar. Pasukannya hanya tiga ratusan orang, berhadapan dengan seribu tentara Quraisy. “Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tak ada lagi yang menyembah-Mu di bumi,” demikian sabdanya (HR Muslim).
Itulah yang disebut doa dalam bentuk paling ekstrem—sebuah pertempuran antara keyakinan dan kenyataan. Doa menjadi ruang transendensi di tengah gentingnya hidup.
Kini, berabad-abad setelah Badar, medan perang mungkin berubah. Tapi keperluan akan doa tetap sama. Dalam era penuh kecemasan—pandemi, ekonomi yang ringkih, dan perang wacana di media sosial—doa seakan kembali menjadi “senjata terakhir” orang beriman.
Baca juga: Keadilan dalam Pandangan Islam: Dari Doa hingga Zakat