Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home masjid detail berita

Senjata Tanpa Bunyi: Ijtihad Rohani di Era Digital

miftah yusufpati Kamis, 09 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Senjata Tanpa Bunyi: Ijtihad Rohani di Era Digital
Ketika doa berpindah dari mihrab ke media sosial, maknanya bergeser dari ritual ke ruang publik. Namun di balik layar, manusia tetap sama: mencari tenang, mencari Tuhan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Panas sore di Cikini mulai mereda. Di serambi masjid kecil di belakang toko buku, seorang pria paruh baya menengadahkan kedua tangannya—pelan, nyaris tanpa suara. Ia berdoa. Dari luar, mungkin tampak sederhana. Tapi bagi banyak muslim, di situlah titik paling sunyi sekaligus paling kuat dari manusia: saat memohon.

“Doa itu bukan sekadar ritual,” kata Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an (1994). “Ia adalah pengakuan bahwa manusia ini lemah. Ia bentuk tertinggi dari penyerahan diri.”

Dalam kitab klasik al-Manhaj al-Islami, doa disebut sebagai silah al-mu’min—senjata orang beriman. Sebagaimana dikutip laman almanhaj.or.id (2023), doa bukan hanya ucapan, melainkan energi rohani yang menjadi pelindung dari kesombongan. “Barang siapa enggan berdoa,” tulis artikel itu mengutip surah Gafir ayat 60, “akan masuk neraka dalam keadaan hina.”

Rasulullah Muhammad SAW berdoa di lembah Badar dengan tubuh gemetar. Pasukannya hanya tiga ratusan orang, berhadapan dengan seribu tentara Quraisy. “Ya Allah, jika pasukan ini binasa, tak ada lagi yang menyembah-Mu di bumi,” demikian sabdanya (HR Muslim).

Itulah yang disebut doa dalam bentuk paling ekstrem—sebuah pertempuran antara keyakinan dan kenyataan. Doa menjadi ruang transendensi di tengah gentingnya hidup.

Kini, berabad-abad setelah Badar, medan perang mungkin berubah. Tapi keperluan akan doa tetap sama. Dalam era penuh kecemasan—pandemi, ekonomi yang ringkih, dan perang wacana di media sosial—doa seakan kembali menjadi “senjata terakhir” orang beriman.

Baca juga: Keadilan dalam Pandangan Islam: Dari Doa hingga Zakat

Sosiolog agama Michael Cook menulis dalam Ancient Religions, Modern Politics (Princeton, 2014): “Semakin modern masyarakat muslim, semakin mereka membutuhkan simbol yang personal dan tidak terukur—dan doa menjadi medium resistensi terhadap dunia yang serba rasional.”

Dalam riwayat Tirmidzi, Nabi bersabda, “Doa adalah ibadah itu sendiri.” Ia tak hanya pelengkap ibadah, tetapi jantung dari keimanan itu. Sebab dengan berdoa, manusia mengakui keterbatasannya di hadapan Yang Mahakuasa.

Di masjid kampus Universitas Indonesia, misalnya, psikolog-psikolog muda kini meneliti korelasi antara intensitas doa dan kesejahteraan mental. “Ada data menarik,” kata dosen psikologi UI, Fitri Yuliani (2024), “Doa yang teratur dan ikhlas menurunkan kadar kortisol—hormon stres—pada mahasiswa selama ujian.”

Di sisi lain, tradisi Islam klasik memang menempatkan doa bukan sebagai pelarian, melainkan perlawanan spiritual. Imam Syafi‘i pernah menulis, “Jangan remehkan doa, sebab ia adalah anak panah malam yang tak pernah meleset—hanya saja ia punya waktu jatuh yang tidak kita tahu.”

Kalimat itu, kata sejarawan Islam Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara (2013), menunjukkan bahwa doa adalah bentuk komunikasi historis antara manusia dan Tuhannya. Ia bagian dari ijtihad ruhani—usaha rohani yang memelihara kesadaran moral di tengah sistem sosial yang keras.

Baca juga: 5 Adab Berdoa: Salah Satunya Memilih Waktu dan Keadaan yang Mulia

Adab di Era Digital

Namun di zaman digital, doa pun berubah rupa. Media sosial kini dipenuhi doa publik: status “semoga lancar”, unggahan “doain ya teman-teman”, atau bahkan video “doa bersama” yang viral. Apakah ini bentuk degradasi spiritualitas?

“Tidak selalu,” kata antropolog Noorhaidi Hasan, penulis Islam Populer (2020). “Doa di media sosial bisa menjadi cara baru membangun komunitas iman. Ia memperlihatkan solidaritas religius yang cair.”

Meski begitu, adab berdoa yang diajarkan klasik tetap penting: membuka dengan pujian, bersalawat, mengakui dosa, dan memohon dengan sungguh. Kata Nabi, “jangan berkata ‘jika Engkau mau’, sebab Allah tidak dipaksa—mintalah dengan keyakinan.”

Dalam Tafsir al-Mishbah, Quraish Shihab menambahkan: “Doa yang lahir dari hati yang rendah akan naik ke langit dengan cepat. Tapi doa yang penuh keluh kesah tanpa rasa syukur, seperti debu yang tertiup angin.”

Tak hanya soal pribadi, doa juga punya dimensi sosial. Dalam banyak peristiwa sejarah Indonesia, doa menjadi bahasa perlawanan. Dari zikir rahasia di penjara Boven Digoel, salawat yang diselipkan di rapat Sarekat Islam, hingga doa bersama para ibu korban pelanggaran HAM di depan Istana.

“Doa adalah bentuk politik yang paling halus,” kata Goenawan Mohamad dalam esainya Catatan Pinggir (Tempo, 2005). “Ia adalah protes yang tidak meneriakkan kata, tapi menolak tunduk pada keputusasaan.”

Baca juga: Pengertian Doa, Tata Cara, 10 Waktu yang Baik, serta Tempat Terbaik Berdoa

Dalam tradisi Islam, doa memang tidak pernah netral. Ia adalah bentuk tawakal, tapi juga daya hidup. Dari Nabi Ayub yang berdoa di tengah penyakitnya—“Ya Tuhanku, aku telah ditimpa kesulitan, dan Engkau Maha Penyayang” (QS al-Anbiya: 83)—hingga masyarakat yang berdoa di tengah krisis politik hari ini, maknanya tetap sama: pengakuan akan harapan.

Senjata Tanpa Bunyi

Seorang penyair menulis:

“Jangan minta kepada manusia satu kebutuhan.
Minta pada Dia yang pintunya tak pernah tertutup.
Allah marah bila engkau tak meminta,
sedang manusia justru marah bila kau meminta.”

Dalam dunia yang bising oleh opini, doa adalah kesunyian yang keras. Ia tak menaklukkan lewat suara, melainkan lewat keyakinan.

Dan barangkali, seperti dikatakan oleh Karen Armstrong dalam The Case for God (2009), “Doa adalah upaya manusia untuk belajar menjadi manusia.” Karena di sanalah, dalam bisikan yang paling pribadi, iman diuji—dan kemanusiaan dipertahankan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)