home masjid

Bahasa yang Tak Tersentuh: Saat Leiden Gagal Membaca Islam Nusantara

Selasa, 14 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Dari Leiden hingga Batavia, para sarjana Belanda mencoba memahami Islam lewat kamus dan Injil. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di antara barang rampasan dari Timur, para pegawai dan pendeta VOC kadang membawa sesuatu yang lebih rapuh daripada rempah: naskah-naskah keagamaan. Ada fragmen Al-Qur’an, Burdah karya al-Busiri, Idah fi al-fiqh, dan ‘Aqa’id karya al-Nasafi. Tapi di tangan mereka, teks-teks itu sering jatuh dalam kebingungan dan salah tafsir.

Salah satunya menimpa sebuah manuskrip lontar yang dibawa ke Belanda pada awal abad ke-17. Naskah itu, yang berisi ajaran-ajaran Islam dari “Seh Bari”, diserahkan kepada Bonaventura Vulcanius, guru besar bahasa Yunani di Universitas Leiden. Ia menganggapnya teks Jepang. Butuh berabad-abad sebelum para akademisi sadar bahwa yang mereka simpan adalah warisan intelektual Islam Nusantara.

“Sebagian besar naskah dari Hindia dikelompokkan ke dalam kategori ‘terlalu kabur untuk dipecahkan’,” tulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara. Sebuah traktat sufi yang sudah diketahui berbahasa Jawa sejak 1597 baru diterbitkan secara ilmiah hampir tiga abad kemudian, pada 1881.

Bahasa yang Tak Dikenal

Ketika VOC berkuasa, para cendekiawan Leiden haus akan teks, tapi tidak punya ahli bahasa yang benar-benar paham dunia timur. Erpenius dan Golius, dua profesor besar Arab di Leiden, meminjam manuskrip Melayu dan Jawa, tetapi banyak yang hanya menjadi koleksi pajangan. Beberapa naskah bahkan dijual ke kolektor bangsawan Inggris.

Pada 1613, seorang Morisco bernama Ahmad bin Qasim al-Hajari—muslim Spanyol yang terpaksa berpindah agama—datang ke Leiden. Dialah yang mengenali risalah Arab tentang sufisme yang dibawa dari Hindia. “Bahwa bahasa Arab tingkat tinggi dikenal di Hindia tampaknya sama-sama mengejutkan bagi sang Morisco dan tuan rumahnya,” tulis Laffan.

VOC, yang semula datang untuk berdagang, kini dihadapkan pada kenyataan: di negeri yang hendak mereka kuasai, sudah hidup peradaban Islam dengan jaringan keilmuan yang luas. Namun alih-alih memahami, mereka justru berupaya menaklukkan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya