Ketika Belanda Mencoba Membaca Surga: Menerjemahkan Tuhan di Negeri yang Tak Dikenal
Miftah yusufpati
Selasa, 14 Oktober 2025 - 05:15 WIB
Snouck Hurgronje. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Di Leiden, musim dingin 1655, Gisbertus Voetius menatap naskah lusuh berhuruf Arab yang dibawa dari Timur. Di atas meja kayunya, tinta menetes dari pena bulu angsa, tapi makna huruf-huruf itu tetap membeku. Ia, seorang profesor teologi di Universitas Utrecht, mencoba memahami “agama Mohammedan” dari terjemahan yang tak pernah selesai. Bahasa Arab sudah dipelajarinya sedikit dari Thomas Erpenius, orientalis kesohor Leiden, tapi kitab-kitab yang datang dari Timur seperti berbicara dalam suara Tuhan yang asing.
“Pengetahuan tentang bahasa adalah satu hal,” tulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Mizan, 2015), “pengetahuan tentang agama adalah hal yang lain.” Kalimat itu membelah abad. Dari abad ke-17 hingga kini, ia seperti gema yang tak padam dari ruang-ruang arsip Batavia hingga rak buku Leiden.
Pada masa itu, Belanda baru saja menaklukkan benteng-benteng Portugis di Timur. Dari Malaka hingga Makassar, para pedagang dan misionaris membawa Injil dan kamus Melayu. Tapi yang mereka temui bukan sekadar “orang kafir” yang perlu diselamatkan, melainkan dunia Islam yang telah lama berakar di tanah-tanah lembab Nusantara.
Isaac de Saint Martin, Komandan Garnisun Batavia, mungkin lebih paham bahasa Melayu daripada para pendeta yang dikirim dari Rotterdam. Ia mengoleksi hampir 90 manuskrip Melayu dan Jawa — yang kelak menjadi dasar koleksi Sekretariat Jenderal Batavia. Tapi bagi banyak pendeta, Islam tetap tampak sebagai “agama ringan” yang mudah diterima orang-orang bodoh, seperti keluh François Valentijn dalam Oud en Nieuw Oost-Indiën (1724–26).
Valentijn sendiri fasih berbahasa Melayu, bahkan bersahabat dengan Syekh-syekh di Ambon dan Jepara. Namun ia tetap menulis bahwa Islam “bukan agama utama,” melainkan “endapan Yahudi dan khayalan Saracen.” Ia tak mengerti bahwa di setiap surau kecil, para santri mempelajari fiqh, membaca Ma‘rifat al-Islam, atau mengulang Bustan al-Salatin dalam bahasa yang ia anggap rusak.
Kolonialisme Pengetahuan
Laffan menunjukkan bagaimana sejak awal abad ke-17, pengetahuan Belanda tentang Islam lebih dibentuk oleh “keyakinan yang masuk akal” — sebuah rasionalitas Protestan yang menolak takhayul, tapi gagal membaca spiritualitas Timur. Ketika Erpenius berdiskusi dengan Ibn al-Hajari, seorang Morisco pelawat, Leiden masih membuka diri terhadap pertemuan lintas iman. Tapi dua abad kemudian, sikap itu membeku menjadi misi yang menindas: upaya menjinakkan agama melalui bahasa.
“Pengetahuan tentang bahasa adalah satu hal,” tulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Mizan, 2015), “pengetahuan tentang agama adalah hal yang lain.” Kalimat itu membelah abad. Dari abad ke-17 hingga kini, ia seperti gema yang tak padam dari ruang-ruang arsip Batavia hingga rak buku Leiden.
Pada masa itu, Belanda baru saja menaklukkan benteng-benteng Portugis di Timur. Dari Malaka hingga Makassar, para pedagang dan misionaris membawa Injil dan kamus Melayu. Tapi yang mereka temui bukan sekadar “orang kafir” yang perlu diselamatkan, melainkan dunia Islam yang telah lama berakar di tanah-tanah lembab Nusantara.
Isaac de Saint Martin, Komandan Garnisun Batavia, mungkin lebih paham bahasa Melayu daripada para pendeta yang dikirim dari Rotterdam. Ia mengoleksi hampir 90 manuskrip Melayu dan Jawa — yang kelak menjadi dasar koleksi Sekretariat Jenderal Batavia. Tapi bagi banyak pendeta, Islam tetap tampak sebagai “agama ringan” yang mudah diterima orang-orang bodoh, seperti keluh François Valentijn dalam Oud en Nieuw Oost-Indiën (1724–26).
Valentijn sendiri fasih berbahasa Melayu, bahkan bersahabat dengan Syekh-syekh di Ambon dan Jepara. Namun ia tetap menulis bahwa Islam “bukan agama utama,” melainkan “endapan Yahudi dan khayalan Saracen.” Ia tak mengerti bahwa di setiap surau kecil, para santri mempelajari fiqh, membaca Ma‘rifat al-Islam, atau mengulang Bustan al-Salatin dalam bahasa yang ia anggap rusak.
Kolonialisme Pengetahuan
Laffan menunjukkan bagaimana sejak awal abad ke-17, pengetahuan Belanda tentang Islam lebih dibentuk oleh “keyakinan yang masuk akal” — sebuah rasionalitas Protestan yang menolak takhayul, tapi gagal membaca spiritualitas Timur. Ketika Erpenius berdiskusi dengan Ibn al-Hajari, seorang Morisco pelawat, Leiden masih membuka diri terhadap pertemuan lintas iman. Tapi dua abad kemudian, sikap itu membeku menjadi misi yang menindas: upaya menjinakkan agama melalui bahasa.