home masjid

Di Antara Nilai dan Teknologi: Pesantren di Persimpangan Zaman

Ahad, 19 Oktober 2025 - 04:15 WIB
Selama berabad-abad, pesantren membuktikan diri sebagai laboratorium peradaban. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Pesantren adalah institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia. Ia tumbuh dari rahim masyarakat, berakar di tanah kebudayaan, dan menjadi sumber nilai bagi kehidupan bangsa. Namun sejak masa kolonial hingga era digital, lembaga ini terus disalahpahami oleh negara, oleh kaum terpelajar, bahkan oleh sebagian umat Islam sendiri.

Kesalahpahaman itu bukan kebetulan. Pemerintah kolonial memandang pesantren sebagai sarang konservatisme. Negara pascakolonial menilainya sebagai lembaga tradisional yang perlu dimodernisasi. Kini, di tengah gelombang digitalisasi, pesantren kembali dianggap tertinggal. Pandangan seperti ini menunjukkan cara pandang sempit terhadap makna kemajuan: seolah-olah kemajuan hanya bisa diukur dari teknologi dan efisiensi, bukan dari nilai dan akhlak.

Padahal, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia adalah laboratorium peradaban. Ia melahirkan ulama, pejuang kemerdekaan, dan pemimpin bangsa. Dari pondok-pondok sederhana di pelosok desa, lahir manusia yang beradab dan berjiwa kemanusiaan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan kembali posisi strategis pesantren. “Jangan sekali-kali mengusik sistem peradaban yang dikembangkan oleh pesantren,” ujarnya di Malang, Rabu (15/10). Ia menekankan, pesantren telah berabad-abad membuktikan kemandirian dan dedikasinya untuk menciptakan masyarakat berkeadaban.

Baca juga: Pesantren Jadi Pusat Kemandirian dan Moralitas Bangsa, Tegas Menag Nasaruddin Umar

Pernyataan ini muncul di tengah insiden program televisi yang menyinggung aktivitas pesantren. Meski pihak stasiun televisi telah meminta maaf, kasus tersebut menyisakan pelajaran penting: betapa dangkalnya sebagian masyarakat memahami dunia pesantren.

Pesantren bukan lembaga tertutup yang anti-perubahan, melainkan sistem pendidikan berbasis nilai, kesederhanaan, dan keteladanan. Dalam situasi sosial yang kian banal, pesantren justru menjadi ruang pembentukan karakter dan kedalaman spiritual.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya