Sejarah Islam Nusantara: Mencari Gereja Penyeimbang
Miftah yusufpati
Ahad, 19 Oktober 2025 - 05:15 WIB
Para penginjil abad ke-19 datang mencari gereja di dunia Islam, tapi yang mereka temukan justru jaringan spiritual yang melampaui batas kekuasaan dan bahasa kolonial. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di Brunei tahun 1837, dua orang misionaris asing duduk terpana di beranda istana Sultan ‘Umar ‘Ali Sayf al-Din II. Malam itu, mereka menyaksikan puluhan lelaki berpakaian putih membentuk lingkaran, menabuh rebana, dan melantunkan zikir dengan irama yang perlahan meninggi. Dalam cahaya lampu minyak, suara “Allahu... Allahu...” menggema hingga larut malam.
Tapi yang bagi umatIslam merupakan ibadah penuh khusyuk, bagi sang misionaris terdengar seperti “gonggongan babi yang terbangun dari tidur.” Begitulah G. Tradescant Lay, seorang naturalis Inggris, menggambarkan zikir Brunei dalam laporannya yang kemudian dikutip sejarawan Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Freedom Institute, 2015).
Bersama rekannya dari Amerika, James T. Dickinson, Lay berlayar dari Malaka menuju Sulawesi, Magindanao, dan Borneo. Misi mereka bukan sekadar ilmiah: mereka membawa risalah Kristen, pamflet keagamaan, dan mimpi lama Eropa untuk “menyeimbangkan” Islam di Timur. Mereka mencari gereja penyeimbang—institusi iman yang diharapkan dapat menandingi kekuatan ulama dan tarekat yang mengakar di dunia Melayu.
Namun, kenyataan tak seindah doa yang dicetak dalam laporan misi. Laffan mencatat, sejak abad ke-19, “pengkristenan orang-orangIslam lokal sangatlah jarang.” Bahkan kaum non-Muslim di kepulauan ini pun jarang tertarik. Misi Amerika di Singapura, misalnya, hanya berhasil mengkristenkan lima orang Tionghoa setelah tujuh tahun bekerja sebelum akhirnya ditutup pada 1843.
Baca juga: Islam Nusantara: Kampus Pengetahuan dan Kolonialisme dari Surakarta ke Leiden
Lay dan Dickinson mendapati umat Islam di Nusantara bukan masyarakat pasif yang menunggu penerangan Injil, melainkan komunitas religius yang telah membangun sistem pengetahuan sendiri. Mereka bertemu seorang “pendeta” Brunei—seorang haji yang pernah bermukim di Mekah selama 25 tahun—yang bahkan mengizinkan Injil Melayu beredar secara terbuka. Fakta itu membingungkan dua misionaris yang mengira ajaran Islam melarang pembacaan teks non-Qurani.
Lay menulis dengan getir bahwa orang Brunei “lebih menginginkan hikayat daripada kitab suci.” Dalam catatannya, ia menyebut orang Belanda sebagai penghalang utama kegiatan misi, “menjamin kekuasaan Sang Pangeran Kegelapan atas Borneo untuk selamanya.” Tapi bagi Laffan, komentar semacam ini mencerminkan sikap khas para pendeta-ilmuwan abad ke-19: mencampur ambisi ilmiah dengan kebencian teologis terhadap Islam.
Tapi yang bagi umatIslam merupakan ibadah penuh khusyuk, bagi sang misionaris terdengar seperti “gonggongan babi yang terbangun dari tidur.” Begitulah G. Tradescant Lay, seorang naturalis Inggris, menggambarkan zikir Brunei dalam laporannya yang kemudian dikutip sejarawan Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Freedom Institute, 2015).
Bersama rekannya dari Amerika, James T. Dickinson, Lay berlayar dari Malaka menuju Sulawesi, Magindanao, dan Borneo. Misi mereka bukan sekadar ilmiah: mereka membawa risalah Kristen, pamflet keagamaan, dan mimpi lama Eropa untuk “menyeimbangkan” Islam di Timur. Mereka mencari gereja penyeimbang—institusi iman yang diharapkan dapat menandingi kekuatan ulama dan tarekat yang mengakar di dunia Melayu.
Namun, kenyataan tak seindah doa yang dicetak dalam laporan misi. Laffan mencatat, sejak abad ke-19, “pengkristenan orang-orangIslam lokal sangatlah jarang.” Bahkan kaum non-Muslim di kepulauan ini pun jarang tertarik. Misi Amerika di Singapura, misalnya, hanya berhasil mengkristenkan lima orang Tionghoa setelah tujuh tahun bekerja sebelum akhirnya ditutup pada 1843.
Baca juga: Islam Nusantara: Kampus Pengetahuan dan Kolonialisme dari Surakarta ke Leiden
Lay dan Dickinson mendapati umat Islam di Nusantara bukan masyarakat pasif yang menunggu penerangan Injil, melainkan komunitas religius yang telah membangun sistem pengetahuan sendiri. Mereka bertemu seorang “pendeta” Brunei—seorang haji yang pernah bermukim di Mekah selama 25 tahun—yang bahkan mengizinkan Injil Melayu beredar secara terbuka. Fakta itu membingungkan dua misionaris yang mengira ajaran Islam melarang pembacaan teks non-Qurani.
Lay menulis dengan getir bahwa orang Brunei “lebih menginginkan hikayat daripada kitab suci.” Dalam catatannya, ia menyebut orang Belanda sebagai penghalang utama kegiatan misi, “menjamin kekuasaan Sang Pangeran Kegelapan atas Borneo untuk selamanya.” Tapi bagi Laffan, komentar semacam ini mencerminkan sikap khas para pendeta-ilmuwan abad ke-19: mencampur ambisi ilmiah dengan kebencian teologis terhadap Islam.