Pengerasan dan Perpisahan: Ketika Sarekat Islam Diuji di Priangan (1919–1942)
Miftah yusufpati
Kamis, 06 November 2025 - 17:15 WIB
Tragedi Cimareme 1919 membuka babak kelam antara kolonialisme dan kesalehan rakyat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Suatu sore di tahun 1919, udara di dataran tinggi Priangan yang biasanya teduh mendadak menjadi saksi kekerasan. Di Cimareme, Garut, seorang guru kampung bernama Haji Hasan ditembak mati bersama keluarganya oleh aparat kolonial. Di Toli-Toli, Sulawesi, seorang kontrolir Belanda tewas dalam kerusuhan yang dipicu pemogokan kerja paksa. Dua peristiwa ini menjadi lonceng keras bagi Hindia Belanda—dan bagi Sarekat Islam (SI), yang saat itu tengah mencari bentuk antara gerakan keagamaan dan nasionalisme politik.
Dalam buku Sejarah Islam di Nusantarakarya Michael Laffan, periode 1919–1942 disebut sebagai masa “pengerasan dan perpisahan”. Sarekat Islam, yang pada awalnya tampil sebagai wadah pergerakan rakyat dengan semangat persaudaraan keislaman, perlahan berubah menjadi arena pertarungan ideologi: antara pembaharu dan kaum tarekat, antara kaum modernis dan mistikus, antara politik dan iman.
Haji Hasan dari Cimareme bukan tokoh politik. Ia lebih dikenal sebagai pengamal dzikir tarekat, bukan agitator. Namun, ketika ia menolak permintaan pejabat kolonial untuk menyerahkan beras, peluru justru menjadi jawabannya. Dalam laporan penasihat urusan pribumi, C. Snouck Hurgronje, yang diteruskan kepada Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, disebutkan bahwa Haji Hasan hanya berusaha mempertahankan tanahnya dari perampasan oleh aparat lokal yang didukung bupati. Tapi bagi penguasa, dzikir yang ia lantunkan di malam kejadian dianggap rapat pemberontakan.
Kasus Cimareme kemudian menjadi simbol tarik-menarik tafsir: apakah itu perlawanan sosial, atau justru letupan spiritual kaum Sufi terhadap ketidakadilan kolonial? Laffan menulis, pejabat kolonial “melihat bayangan politik dalam doa, sementara rakyat melihat kesalehan yang dihancurkan oleh senjata.”
Dalam konteks itu, muncul tokoh-tokoh seperti Abdoel Moeis dan Haji Agus Salim, dua pemimpin Sarekat Islam yang mencoba menafsir ulang peristiwa tersebut. Dalam surat kabar Neratja, Salim menulis bahwa baik pejabat yang tewas di Toli-Toli maupun Haji Hasan di Garut sama-sama korban dari sistem kolonial yang “kaku dan tak berperasaan”. Ia menolak mistifikasi azimat, menegaskan bahwa syahid sejati tak butuh jimat—hanya niat.
Sarekat Islam dan Retaknya Kesatuan
Namun, kematian Haji Hasan tak hanya memantik simpati. Ia juga memunculkan kecurigaan terhadap Sarekat Islam. Di Ciamis, muncul cabang rahasia bernama Afdeling B, dipimpin oleh Sosrokardono dan didukung oleh para syekh seperti Haji Sulayman dari Cawi. Mereka mengaku sebagai “tentara Sarekat Islam” yang hendak merebut kemerdekaan. Dalam banyak hal, kelompok ini mengingatkan pada gerakan bawah tanah, mencampur semangat jihad dengan perlawanan sosial.
Dalam buku Sejarah Islam di Nusantarakarya Michael Laffan, periode 1919–1942 disebut sebagai masa “pengerasan dan perpisahan”. Sarekat Islam, yang pada awalnya tampil sebagai wadah pergerakan rakyat dengan semangat persaudaraan keislaman, perlahan berubah menjadi arena pertarungan ideologi: antara pembaharu dan kaum tarekat, antara kaum modernis dan mistikus, antara politik dan iman.
Haji Hasan dari Cimareme bukan tokoh politik. Ia lebih dikenal sebagai pengamal dzikir tarekat, bukan agitator. Namun, ketika ia menolak permintaan pejabat kolonial untuk menyerahkan beras, peluru justru menjadi jawabannya. Dalam laporan penasihat urusan pribumi, C. Snouck Hurgronje, yang diteruskan kepada Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, disebutkan bahwa Haji Hasan hanya berusaha mempertahankan tanahnya dari perampasan oleh aparat lokal yang didukung bupati. Tapi bagi penguasa, dzikir yang ia lantunkan di malam kejadian dianggap rapat pemberontakan.
Kasus Cimareme kemudian menjadi simbol tarik-menarik tafsir: apakah itu perlawanan sosial, atau justru letupan spiritual kaum Sufi terhadap ketidakadilan kolonial? Laffan menulis, pejabat kolonial “melihat bayangan politik dalam doa, sementara rakyat melihat kesalehan yang dihancurkan oleh senjata.”
Dalam konteks itu, muncul tokoh-tokoh seperti Abdoel Moeis dan Haji Agus Salim, dua pemimpin Sarekat Islam yang mencoba menafsir ulang peristiwa tersebut. Dalam surat kabar Neratja, Salim menulis bahwa baik pejabat yang tewas di Toli-Toli maupun Haji Hasan di Garut sama-sama korban dari sistem kolonial yang “kaku dan tak berperasaan”. Ia menolak mistifikasi azimat, menegaskan bahwa syahid sejati tak butuh jimat—hanya niat.
Sarekat Islam dan Retaknya Kesatuan
Namun, kematian Haji Hasan tak hanya memantik simpati. Ia juga memunculkan kecurigaan terhadap Sarekat Islam. Di Ciamis, muncul cabang rahasia bernama Afdeling B, dipimpin oleh Sosrokardono dan didukung oleh para syekh seperti Haji Sulayman dari Cawi. Mereka mengaku sebagai “tentara Sarekat Islam” yang hendak merebut kemerdekaan. Dalam banyak hal, kelompok ini mengingatkan pada gerakan bawah tanah, mencampur semangat jihad dengan perlawanan sosial.