Tragedi Cimareme: Zikir, Peluru, dan Politik Kolonial
Miftah yusufpati
Senin, 10 November 2025 - 05:45 WIB
Tragedi Cimareme 1919 mempertemukan dzikir dan peluru. Di balik doa Haji Hasan tersimpan perlawanan agraria dan kebangkitan politik Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Suara dzikir bergema di antara sawah Cimareme, Garut, pada suatu pagi di awal Juni 1919. Para murid Haji Hasan, seorang guru kecil yang dikenal tekun beribadah, berkumpul di rumahnya. Mereka melantunkan asma Allah, konon tanpa maksud melawan siapa pun. Tapi bagi aparat kolonial, lantunan itu terdengar seperti teriakan pemberontakan.
Tak lama, rentetan peluru menyalak. Haji Hasan, istri, dan anak-anaknya tewas di tempat. Insiden itu kelak dikenal sebagai Peristiwa Cimareme—sebuah tragedi yang memperlihatkan bagaimana kolonialisme, tarekat, dan politik nasionalis berkelindan dalam satu pusaran.
Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Mizan, 2015), terjemahan dari The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011)mencatat, pada tahun yang sama Sarekat Islam di Ciamis membentuk “Afdeling B”—sayap rahasia yang disebut-sebut menyiapkan “tentara Islam” untuk merebut kemerdekaan. Kelompok ini diwarnai oleh anggota tarekat Naqsyabandiyah dan pedagang azimat. Nama-nama seperti Haji Sulayman dari Cawi dan Haji Adra’i, pewaris jaringan ulama lama yang pernah ditemui Snouck Hurgronje, kembali muncul di lingkaran ini.
Namun, hubungan Haji Hasan dengan kelompok itu kabur. Ia hanya membeli azimat dari Sulayman—azimat yang gagal melindunginya. Di balik kisah spiritual itu, konflik agraria lebih menentukan. Haji Hasan, tulis Laffan, hanya berusaha mempertahankan tanahnya dari rampasan pejabat lokal yang didukung bupati.
Salim dan Narasi Syahid
Peristiwa Cimareme mengguncang publik. Haji Agoes Salim, melalui surat kabar Neratja, menulis bahwa baik Haji Hasan maupun pejabat Belanda di Toli-Toli yang tewas adalah “korban sistem kolonial yang kaku”. Dalam pandangannya, Hasan bukan pemberontak, melainkan rakyat tertindas.
Agoes Salim mengecam mereka yang menjual jimat dan azimat palsu. “Syahid sejati,” tulisnya, “tak butuh perlindungan selain niat untuk mati demi agama dan bangsa.”
Tak lama, rentetan peluru menyalak. Haji Hasan, istri, dan anak-anaknya tewas di tempat. Insiden itu kelak dikenal sebagai Peristiwa Cimareme—sebuah tragedi yang memperlihatkan bagaimana kolonialisme, tarekat, dan politik nasionalis berkelindan dalam satu pusaran.
Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Mizan, 2015), terjemahan dari The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011)mencatat, pada tahun yang sama Sarekat Islam di Ciamis membentuk “Afdeling B”—sayap rahasia yang disebut-sebut menyiapkan “tentara Islam” untuk merebut kemerdekaan. Kelompok ini diwarnai oleh anggota tarekat Naqsyabandiyah dan pedagang azimat. Nama-nama seperti Haji Sulayman dari Cawi dan Haji Adra’i, pewaris jaringan ulama lama yang pernah ditemui Snouck Hurgronje, kembali muncul di lingkaran ini.
Namun, hubungan Haji Hasan dengan kelompok itu kabur. Ia hanya membeli azimat dari Sulayman—azimat yang gagal melindunginya. Di balik kisah spiritual itu, konflik agraria lebih menentukan. Haji Hasan, tulis Laffan, hanya berusaha mempertahankan tanahnya dari rampasan pejabat lokal yang didukung bupati.
Salim dan Narasi Syahid
Peristiwa Cimareme mengguncang publik. Haji Agoes Salim, melalui surat kabar Neratja, menulis bahwa baik Haji Hasan maupun pejabat Belanda di Toli-Toli yang tewas adalah “korban sistem kolonial yang kaku”. Dalam pandangannya, Hasan bukan pemberontak, melainkan rakyat tertindas.
Agoes Salim mengecam mereka yang menjual jimat dan azimat palsu. “Syahid sejati,” tulisnya, “tak butuh perlindungan selain niat untuk mati demi agama dan bangsa.”