home masjid

Sejarah Islam Nusantara: Di Bawah Sebuah Negara Intoleran

Senin, 10 November 2025 - 16:00 WIB
Snouck Hurgronje mungkin meninggalkan Hindia, tapi bayang-bayangnya masih mengatur cara Belanda memahami Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Di awal abad ke-20, Hindia Belanda hidup dalam paradoks: sebuah negeri dengan mayoritas Muslim, tapi dikelola di bawah struktur yang curiga terhadap Islam. Pemerintah kolonial membangun perangkat politik dan intelektual yang berlapis—antara pengawasan, pengendalian, dan pencitraan etis. Di sanalah konsep “negara intoleran” menemukan wujudnya: kekuasaan yang ingin memahami Islam, tapi tak pernah benar-benar mempercayainya.

Ketika Snouck Hurgronje menulis tesis-tesisnya tentang Islam dan masyarakat pribumi, ia sebenarnya tengah membangun dua hal sekaligus: pengetahuan ilmiah dan alat kekuasaan. Snouck ingin agar Belanda memahami Islam secara sosiologis—bukan semata agama, melainkan sistem sosial yang harus diatur agar tunduk pada administrasi kolonial.

Namun, di tangan penerusnya, ideal “pencerahan kolonial” berubah menjadi “politik ketakutan.” Seperti ditulis Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara(Mizan, 2015), jabatan Adviseur voor Inlandsche Zaken—Penasihat untuk Urusan Pribumi—bergantung pada kehendak gubernur jenderal: apakah ia memilih memahami rakyatnya, atau sekadar mengawasi mereka.

E. Gobée, salah satu penerus Snouck, mencoba bersikap manusiawi. R.A. Kern, dalam obituarinya tahun 1954, mengenangnya sebagai “penolong rakyat kecil yang datang ke kantornya mencari jalan keluar.” Tapi kebijakan etis yang diwakilinya segera tergilas oleh arus baru: negara polisi.

Hantu Snouck dan Bayang-Bayang Nasionalisme

Snouck Hurgronje mungkin meninggalkan Hindia, tapi bayang-bayangnya masih mengatur cara Belanda memahami Islam. Di Leiden, lembaga kajian Islam yang ia dirikan dijadikan pusat pembinaan birokrat kolonial. Namun, seperti dicatat Laffan, justru dari sinilah lahir perlawanan: para pejabat muda yang tak lagi percaya bahwa kolonialisme bisa “memahami” Islam tanpa menindasnya.

Di Hindia, prasangka baru tumbuh. Hendrick Kraemer, teolog Belanda yang pernah menjadi murid Snouck, menulis kuliah yang menggambarkan Islam sebagai agama Timur Tengah yang statis, tak sejalan dengan modernitas. Islam, dalam kacamata Kraemer, bukanlah mitra, melainkan objek misi Kristen.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya