home masjid

Rezeki Tak Pernah Salah Alamat, Tugasmu Hanyalah Menjemputnya

Jum'at, 14 November 2025 - 16:53 WIB
Pepatah rezeki tak pernah salah alamat kembali hidup di tengah gelombang kecemasan ekonomi. Ilustrasi: AtmaGo
LANGIT7.ID-Kalimat ini berseliweran di media sosial: “Rezeki tidak pernah salah alamat.” Ia muncul dalam poster kajian, status pedagang kecil, sampai caption motivasi para pekerja harian. Seolah menjadi mantra baru yang menenangkan, pepatah itu merangkum kegelisahan ekonomi masyarakat yang menghadapi ketidakpastian.

Namun, pepatah ini ternyata bukan sekadar ucapan populer. Dalam literatur klasik Islam, gagasan tentang rezeki telah dibahas berabad-abad sebelum istilah “motivasi” menjadi komoditas digital. Para ulama besar—Al-Ghazali, Ibn Taymiyyah, Ibn Qayyim, hingga Al-Mawardi—menempatkan konsep rizq sebagai persoalan teologi, etika, hingga kebijakan sosial.

Lalu bagaimana ajaran yang lahir dari ruang intelektual abad pertengahan itu bisa relevan bagi masyarakat modern?

Di bilik kitab kuning, rezeki digambarkan bukan sekadar uang atau kemakmuran material. Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddinmenyebut rezeki sebagai “segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia”. Spektrum itu mencakup ilmu, kesehatan, pertemanan, bahkan ketenangan batin.

Konsep ini kemudian bergerak lebih tajam pada ulama Hanbali, Ibn Taymiyyah. Dalam Majmu’ al-Fatawa, ia menulis:

“Rezeki seseorang tidak akan meleset, meski seluruh makhluk berusaha menghalanginya.”

Pernyataan keras ini mengendap sebagai basis keyakinan bahwa rezeki sudah dikunci, tidak tertukar dan tidak tersesat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya