home masjid

Asal-usul Julukan Utsman bin Affan sang Pemilik Dua Cahaya

Jum'at, 14 November 2025 - 17:16 WIB
Dialah satu-satunya manusia yang menyandang dua cahaya dalam sejarah Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sebuah rumah sederhana di Madinah, pada hari kemenangan Perang Badar disambut dengan takbir, Utsman bin Affan justru menunduk dalam duka. Istrinya, Ruqayyah binti Muhammad, wafat setelah sakit panjang. Utsman tidak ikut ke medan perang. Rasulullah memintanya tinggal sebagai perawat. Ketika kabar kemenangan tiba, kabar kematian lebih dulu memenuhi rumah itu. Namun Rasulullah tetap memberikan jatah rampasan perang baginya, sehingga ia “dipandang sebagai salah seorang veteran Badar”.

Narasi inilah yang mengawali terbentuknya satu-satunya julukan dalam sejarah Islam yang hanya disandang seorang manusia: Dzu al-Nurayn, Pemilik Dua Cahaya.

Setelah wafatnya Ruqayyah, Nabi menghibur Utsman dengan sebuah ikatan baru: pernikahan dengan Umm Kulthum, adik Ruqayyah. Namun duka menyapa lagi. Umm Kulthum meninggal saat Nabi masih hidup. Rasulullah berkata kepadanya, “Andaikata ada putri kami yang ketiga, niscaya kami kawinkan kepada Anda”.

Dua kali menjadi menantu Rasulullah inilah yang membuat kaum Muslimin memberinya gelar Zun-Nurain atau Dzu al-Nurayn. Menurut Haekal, julukan itu hidup karena “pernikahan Utsman dengan dua putri Nabi”

Sosok yang Lembut, Damai, dan Pemalu

Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul Usman bin Affan, Antara Kekhalifahan dengan Kerajaanyang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (Penerbit P.T. Pustaka Litera AntarNusa) menggambarkan Utsman sebagai sosok yang “suka damai sedapat mungkin”, namun imannya membuatnya selalu hadir dalam ekspedisi Rasulullah. Setelah tidak ikut Badr, ia ikut dalam Uhud, Khandaq, Khaibar, Fathu Makkah, Hunain, Thaif, hingga Tabuk.
Meski demikian, Perang Uhud menjadi salah satu titik yang kemudian digunakan untuk menyerangnya pada masa kekhalifahannya. Ketika pasukan mundur karena kabar Nabi terbunuh, Utsman termasuk yang terpencar. Ia menjawab kritik itu dengan ayat: “Allah telah memaafkan mereka” (QS. 3:155), sebagaimana dikutip Haekal.

Haekal menulis, Utsman memang bukan “pahlawan perang seperti Hamzah, Ali, Zubair, atau Sa’d”, tetapi keberaniannya tampak pada misi paling berisiko dalam hidupnya—diplomasi ke Mekah pada tahun Hudaibiyah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya