Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 18 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Peran Kiai dan Pembentukan Kultus di lingkungan Pesantren

tim langit 7 Senin, 18 Mei 2026 - 15:34 WIB
Peran Kiai dan Pembentukan Kultus di lingkungan Pesantren
Oleh: Fathor Rohman, M.Ag, Pemerhati Fikih Sosial

LANGIT7.ID-Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang telah terbukti mampu bertahan melewati berbagai perubahan zaman. Salah satu keistimewaan yang paling membedakan pesantren dari lembaga pendidikan lainnya adalah relasi antara kiai dan santri yang tidak semata bersifat pedagogis, tetapi juga sarat dengan dimensi spiritual, kultural, dan sosial. Di balik keistimewaan ini, terdapat fenomena yang layak dicermati secara kritis: praktik takdim yang dalam beberapa konteks telah berkembang menjadi pengultusan figur yang sulit dibedakan dari kultus individu. Tulisan ini berupaya mengurai batas antara takdim sebagai nilai pedagogis yang otentik dengan kultus yang secara diam-diam menggerogoti nalar kritis santri.

Persoalan ini bukanlah sesuatu yang lahir dari luar pesantren. Justru, kekhawatiran ini telah lama disuarakan oleh kalangan pesantren sendiri. Para ulama terdahulu sangat memahami bahwa penghormatan kepada guru yang berlebihan dapat menjadi jebakan spiritual dan intelektual yang berbahaya. Namun dalam praktiknya, batas antara takdim yang sehat dan kultus yang tidak sehat (proses menjadi penyakit) kerap menjadi kabur, terutama di lingkungan yang sangat menghormati hierarki dan tidak terbiasa dengan tradisi kritik terbuka (Mastuhu, 1994).

Dalam khazanah pendidikan Islam di Indonesia, tidak ada relasi yang lebih unik sekaligus lebih kompleks daripada hubungan antara kiai dan santri di pesantren. Relasi ini bukan sekadar hubungan antara pengajar dan pelajar, melainkan juga antara pembimbing ruhani dan murid yang membawa misi pewarisan ilmu sekaligus akhlak, namun sering kali melihat pola hubungan ini menjadi sebab dan musabab terjadinya pengultusan yang salah dengan nalar modern.


Peran Kiai di pesantren


Kiai menurut Masrur (2017) merupakan sosok yang kharismatik, karena merupakan pemimpin non formal yang diangkat dan diakui oleh masyarakat karena kharisma yang dimiliki. Pada saat ini istilah kyai bukan hanya untuk seseorang yang mempunyai pesantren, namun istilah ini juga ditujukan bagi seorang ulama yang memiliki pengaruh kuat dimasyarakat. Menurut Mustafa al-Maraghi, kyai adalah orang-orang yang mengetahui kekuasaan dan keagungan Allah SWT sehingga mereka takut melakukan perbuatan maksiat. Menurut Sayyid Quthb mengartikan bahwa kyai adalah orang-orang yang memikirkan dan menghayati ayat-ayat Allah yang mengagumkan sehingga mereka dapat mencapai ma`rifatullah secara hakiki. Kyai dalam pandangan (Dhofier: 1985) adalah gelar yang di berikan oleh masyarakat kepada seseorang yang memiliki pemahaman gama yang lebih, atau tokoh agama islam yang menjadi pemimpin dalam sebuah pondok pesantren.

Dalam perspektif sosiologi, kiai memiliki apa yang oleh Weber disebut sebagai otoritas karismatik otoritas yang diakui bukan karena posisi formal, melainkan karena kualitas personal yang diyakini luar biasa. Di lingkungan pesantren, karisma ini diperkuat oleh faktor-faktor struktural: kiai adalah pemilik pesantren, pemimpin keagamaan, sekaligus figur yang memiliki akses ke jaringan ulama yang lebih luas. Kombinasi ini menciptakan monopoli otoritas yang sangat sulit ditantang (Horikoshi, 1987 sebagaimana dikutip dalam van Bruinessen, 1995).

Menurut Quraisy Shihab ada empat tugas utama yang harus dijalankan kiai sesuai dengan tugas kenabian dalam mengembangkan kitab suci: pertama; menyampaikan (tabligh) ajaranajaran sesuai dengan perintah Allah. Kedua: menjelaskan ajaran agama berdasarkan al-Qur’an. Ketiga, memutuskan perkara atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat.

Sedangkan Nurcholis Madjid menyebutkan sejak abad pertengahan umat Islam telah memberikan kedudukan yang tinggi kepada para kiai pada masyarakat Jawa. Ada dua kategori di dalamnya. Peran pertama, kelompok kiai yang peran sosial yang berada pada jalur ‘al-da’wah wa al-tarbiyah’ (jalur pendidikan informal/pesantren). Peran kedua, kiai yang kedudukannya serta peran sosial keagamaanya berada pada jalur al-Tashiri wa al-Qadha (aktivitas sosial keagamaan dalam bidang hakim yang menyangkut hukum Islam (shari’ah).

Seorang kyai mempunyai beberapa peran penting, antara lain sebagai Mudarris, yaitu pendidik yang menyampaikan materi ajar kepada para santri. Peran kyai sebagai Muallim, yaitu tidak hanya menyampaikan materi saja namun juga memiliki tanggung jawab akan pemahaman keislaman santri. Peran kyai sebagai Murabbi yang artinya pengasuh. Peran kyai sebagai Mursyid, Yaitu pengerah dan pemberi petunjuk mana yang baik dan mana yang buruk. Peran kyai sebagai Muaddib, yaitu pembentuk kepribadian.

Kiai memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter dan moral (akhlak) santri, dengan peran dan posisi yang dimiliki justru tidak menghendaki atau menginginkan pengultusan. Melainkan seharusnya ada kegembiraan karena telah berhasil mencetak dan mendidik santrinya karena mampu melampaui dirinya. Sebab dalam khazanah keilmuan Islam yang paling otentik, tujuan seorang guru bukan untuk menjadi akhir dari perjalanan muridnya melainkan menjadi awal darinya.


Pembentukan Kultus di lingkungan Pesantren


Dalam referensi tradisi kultus di Barat, akar penyebab munculnya kultus itu didorong oleh aspek kejiwaan yang melahirkan sikap tidak puas baik bersifat individu maupun kelompok terhadap sistem sosial dan doktrin nilai agama yang terlalu normatif dan tidak akamodatif terhadap psiko-sosial serta dinamika pemikiran dan kebudayaan masyarakat. Sehingga muncul letupan yang terjadi dimana-mana sebagaimana gerakan kritik budaya (counter culture) dan counter hippy pada tahun 1960an yang berkembang di dunia barat.

Unsur cara berpikir santri juga menjadi embrio munculnya kultus kiai. Pertama, materi kitab yang ditawarkan di pesantren secara eksplisit mengarahkan santri pada pemikiran yang bersifat diametral, artinya memposisikan guru sebagai figur yang serba ideal dan santri sebagai individu pasif yang siap menerima apa yang diberikan oleh kiai. Kedua, dalam sistem pembelajaran, sistem komunikasi yang dikonstruk oleh kiai adalah komunikasi satu arah seperti sistem weton dan sistem sorogan. Pada sistem ini posisi kiai sebagai sumber primer, sehingga santri terkondisikan sebagai subjek hirarkis arus atas bawah yang pasif. Pengaruh dari hirarki ini menjadikan kiai sebagai satu-satunya sumber referensi utama bagi santri.

Beberapa indikator yang perlu diwaspadai sebagai tanda bahwa takdim telah bergeser ke arah pengultusan yang tidak sehat. Pertama, ketika santri tidak merasa aman untuk mengajukan pertanyaan atau perbedaan pendapat kepada kiai, meskipun dalam konteks keilmuan. Kedua, ketika kiai diperlakukan seolah tidak mungkin salah dan kesalahan yang jelas pun dirasionalisasi atau ditutupi demi menjaga wibawa sang tokoh. Ketiga, ketika loyalitas kepada kiai digunakan sebagai alat mobilisasi untuk kepentingan di luar ranah keagamaan misalnya kepentingan politik atau ekonomi dan santri tidak memiliki ruang untuk mempertimbangkan hal itu secara mandiri. Keempat, ketika tradisi takdim digunakan sebagai justifikasi untuk membungkam suara-suara yang mengungkap kekeliruan atau penyimpangan. Mastuhu (1994) secara tegas menyatakan bahwa struktur kekuasaan tanpa akuntabilitas adalah kondisi yang paling kondusif bagi terjadinya penyalahgunaan otoritas, apapun label religiusnya.

Pada akhirnya, persoalan kultus di pesantren adalah persoalan tentang kejujuran: kejujuran untuk mengakui bahwa tradisi yang mulia pun bisa mengalami distorsi jika tidak dijaga dengan kesadaran kritis yang terus-menerus. Takdim yang paling mulia bukanlah yang membuat santri paling tunduk, melainkan yang membuat santri paling bersemangat untuk mewarisi etos keilmuan gurunya termasuk keberanian untuk terus bertanya dan terus belajar sepanjang hayat.(*)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 18 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)