LANGIT7.ID, Jakarta,- - Film fenomenal asal Iran,
Children of Heaven, akan hadir dalam versi Indonesia melalui rumah produksi MD Pictures. Film yang pernah masuk nominasi Academy Awards itu digarap ulang oleh sutradara
Hanung Bramantyo dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 27 Mei 2026.
Karya asli garapan sutradara Iran Majid Majidi dikenal luas karena kisahnya yang sederhana namun penuh makna.
Children of Heaven mengangkat kehidupan kakak beradik, Ali dan Zahra, yang harus berbagi sepasang
sepatu akibat kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.
Baca juga: Reza Rahadian Angkat Kisah Inspiratif Bocah Tunanetra Lewat Film Pendek 'Annisa'Dalam adaptasi Indonesia, latar cerita dipindahkan ke
Kota Semarang pada tahun 1988. Ali dan Zahra digambarkan hidup di kawasan bantaran sungai dengan kehidupan yang jauh dari kata berkecukupan.
Permasalahan dimulai ketika Ali secara tidak sengaja kehilangan sepatu milik adiknya, Zahra. Karena memahami kondisi orang tua yang sedang kesulitan ekonomi, keduanya sepakat untuk memakai satu pasang
sepatu secara bergantian demi tetap bisa bersekolah.
Lewat kisah sederhana tersebut, film ini mencoba menghadirkan nilai tentang cinta keluarga, pengorbanan, dan perjuangan hidup di tengah keterbatasan. Film ini dibintangi Jared Ali, Humaira Jahra, Andri Mashadi, serta Faradina Mufti.
Hanung Bramantyo menyebut proyek film ini memiliki arti mendalam bagi dirinya. Ia merasa bahagia bisa menghadirkan kisah yang hangat dan emosional bersama MD Pictures.
“Film ini sangat personal bagi saya. Dan saya sangat bahagia sekali, MD Pictures pada akhirnya membuat film yang hangat sekali,” ujar Hanung saat gala premiere di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Sabtu (16/5/2026) lalu.
Baca juga: Menteri Kebudayaan Apresiasi “Para Perasuk”, Film Eksploratif yang Angkat Living Culture IndonesiaMenurut Hanung, tema yang diangkat dalam Children of Heaven masih sangat dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini. Meski zaman telah berubah menjadi serba digital, masih banyak keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan sederhana anak-anak mereka.
Ia menilai persoalan kecil seperti membeli sepatu tetap menjadi tantangan bagi sebagian orang tua. Karena itu, cerita dalam film ini dinilai mampu menyentuh berbagai kalangan dan lintas generasi.
"Tapi tetap persoalan sepatu, anak-anak susah mendapat sepatu. Dan bagaimana orang tua sangat susah untuk membahagiakan anak, meski hanya membelikan sepatu. Makanya film ini seperti sebuah potret lintas generasi," ungkapnya.
(est)