home masjid

Nabi Yunus: Ketika Tiga Unsur Tobat Menjadi Kunci Pembebasnya dari Kegelapan

Ahad, 30 November 2025 - 05:15 WIB
Kisah Yunus dapat dibaca sebagai kritik halus atas keputusasaan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di antara kisah taubat yang diabadikan Al Quran, riwayat Nabi Yunus a.s. menempati ruang yang unik: pendek, padat, namun menyentak sisi paling manusiawi seorang nabi. Dalam surah al Anbiyaa ayat 87–88, Al Quran merangkum pergulatan batin itu hanya dengan tiga lapis kegelapan: gelap laut, gelap malam, dan gelap perut ikan. Di sanalah Yunus menyeru kalimat yang memuat pengakuan tauhid, pensucian Tuhan, dan pengakuan kesalahan dirinya.

Kalam pendek itu, menurut Syaikh Yusuf al Qardhawi dalam At Taubat Ila Allah(Maktabah Wahbah, 1998), merupakan puncak kesadaran seorang rasul ketika seluruh daya manusia runtuh dan hanya ketundukan kepada Tuhan yang tersisa. Qardhawi melihat kisah ini sebagai teladan bahwa taubat tidak lahir dari kehancuran, melainkan dari kejernihan melihat kelemahan diri.

Ayat Al Quran memotret momen itu secara ringkas. Yunus meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah dan letih berdakwah. Dalam tafsir al Tabari dan Ibn Katsir, kemarahan itu bukan karena kesombongan, tetapi kegelisahan mendalam melihat penolakan yang tak kunjung berubah menjadi iman. Namun langkahnya meninggalkan kaum—sebelum ada izin Tuhan—menjadi sumber ujian berikutnya. Perahu yang ia tumpangi diterjang badai. Undian untuk meringankan beban kapal jatuh padanya. Dan lautan pun menelan tubuhnya lewat mulut seekor ikan besar.

Para mufasir modern seperti Muhammad Asad dan Sayyid Qutb membaca kisah ini bukan sekadar narasi bencana, melainkan koreksi ilahi terhadap keputusan terburu-buru seorang nabi. Ketergesaan itu menunjukkan sisi manusiawi mereka: terjaga dari dosa besar, tetapi tidak sepenuhnya bebas dari kekeliruan ijtihad yang kemudian ditegur dan diperbaiki.

Dalam perspektif Qardhawi, tiga unsur doa Yunus memuat struktur taubat yang paling esensial. Pertama, pengesaan Tuhan. Kedua, pensucian Allah dari segala kekurangan. Ketiga, pengakuan bahwa diri sendiri telah berbuat zalim. Tiga simpul ini menjelaskan mengapa doa itu dikabulkan seketika: pengakuan total yang lahir dari ketulusan total.

Hadis riwayat Tirmidzi menguatkan makna itu: doa Yunus disebut mustajab bagi siapa pun yang tertimpa kesulitan. Bukan karena susunan katanya puitis, melainkan karena kedalaman sikap batin yang diwakilinya. Dalam tradisi sufi, dari al Qusyairi hingga al Ghazali, doa ini menjadi simbol perjalanan jiwa dari kegelisahan menuju kejernihan.

Dalam bingkai itu, kisah Yunus dapat dibaca sebagai kritik halus atas keputusasaan. Ia seorang nabi, tetapi ia pun diuji rasa letih menghadapi kebuntuan sosial. Pilihan meninggalkan kaum—tindakan yang tampak wajar secara manusiawi—menjadi titik balik paling pahit. Namun justru dari situlah lahir doa yang kini menjadi rujukan jutaan muslim ketika dunia terasa seperti berlapis-lapis kegelapan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya