Penyesalan yang Mengubah Arah: Membuat Seseorang Menyusun Hidup Baru
Miftah yusufpati
Kamis, 04 Desember 2025 - 15:57 WIB
Dari penyesalan yang tidak diumumkan, tetapi mengubah arah hidup seseorang tanpa banyak suara. Ilustrasi: AI
LANGT7.ID- Di sebuah ruangan kecil di Kufah, Abdullah bin Mas'ud menerima tamu ayah dan anak yang datang dengan pertanyaan sederhana namun menohok: benarkah Nabi pernah bersabda bahwa penyesalan adalah taubat? Abdullah bin Mas'ud menjawab pendek, benar. Kalimat yang singkat, tetapi menyimpan lanskap teologis yang luas. Riwayat ini dicatat Al Hakim dalam al-Mustadrak dan dinilai sahih, disetujui Adz-Dzahabi dan dikonfirmasi ulang oleh para peneliti hadis modern seperti Ahmad Muhammad Syakir.
Hadis itu mengandung pergeseran paradigma. Bila sebagian orang memahami taubat sebagai rangkaian tindakan lahiriah — mengucap istighfar, menunaikan ritual, atau memperbaiki hubungan sosial—Nabi justru menegaskan inti yang tak terlihat: penyesalan, nadam. Ia menjadi titik balik psikologis yang membuat seseorang berhenti, berpaling, dan menyusun hidup baru.
Dalam literatur klasik, penyesalan ini tidak dianggap sebagai perasaan yang pasif. Al-Ghazali menggambarkannya sebagai kekuatan yang mengguncang. Dalam Ihya Ulumiddin, ia menulis bahwa taubat dimulai ketika hati tersentak oleh kesadaran bahwa sebuah perbuatan menjauhkan diri dari Tuhan. Sentakan itulah yang melahirkan nadam.
Sementara Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-Ulum wa al-Hikam menempatkan nadam sebagai inti taubat karena ia menunjukkan bahwa kesadaran moral seseorang masih hidup. Tanpa nadam, istighfar bisa berubah menjadi mantra mekanis yang tidak menyentuh apa pun.
Dalam kajian modern, psikolog moral seperti Jonathan Haidt dan peneliti spiritualitas Muslim kontemporer menyebut penyesalan sebagai energi etis. Ia memicu perubahan, mendorong seseorang menyusun ulang narasi hidupnya. Di titik ini, hadis tersebut bersinggungan dengan psikologi pertobatan dalam berbagai tradisi agama: perubahan tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari kesadaran mendalam tentang apa yang salah.
Namun hadis ini juga memunculkan ironi sosial. Dalam budaya keagamaan hari ini, penyesalan kadang tampil sebagai performa: air mata yang tumpah di unggahan media sosial, pidato tobat selebritas, atau rekayasa publik yang menjadikan rasa bersalah sebagai konsumsi massa. Padahal nadam, dalam kacamata hadis, bekerja dalam ruang sunyi, bukan panggung.
Para pembaru modern seperti Fazlur Rahman membaca hadis semacam ini sebagai upaya Nabi menggeser moralitas dari ritualistik menuju etika otonom. Taubat bukan sekadar mengikuti tata cara, tetapi kerja batin yang melibatkan keberanian menatap diri sendiri tanpa tabir.
Hadis itu mengandung pergeseran paradigma. Bila sebagian orang memahami taubat sebagai rangkaian tindakan lahiriah — mengucap istighfar, menunaikan ritual, atau memperbaiki hubungan sosial—Nabi justru menegaskan inti yang tak terlihat: penyesalan, nadam. Ia menjadi titik balik psikologis yang membuat seseorang berhenti, berpaling, dan menyusun hidup baru.
Dalam literatur klasik, penyesalan ini tidak dianggap sebagai perasaan yang pasif. Al-Ghazali menggambarkannya sebagai kekuatan yang mengguncang. Dalam Ihya Ulumiddin, ia menulis bahwa taubat dimulai ketika hati tersentak oleh kesadaran bahwa sebuah perbuatan menjauhkan diri dari Tuhan. Sentakan itulah yang melahirkan nadam.
Sementara Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-Ulum wa al-Hikam menempatkan nadam sebagai inti taubat karena ia menunjukkan bahwa kesadaran moral seseorang masih hidup. Tanpa nadam, istighfar bisa berubah menjadi mantra mekanis yang tidak menyentuh apa pun.
Dalam kajian modern, psikolog moral seperti Jonathan Haidt dan peneliti spiritualitas Muslim kontemporer menyebut penyesalan sebagai energi etis. Ia memicu perubahan, mendorong seseorang menyusun ulang narasi hidupnya. Di titik ini, hadis tersebut bersinggungan dengan psikologi pertobatan dalam berbagai tradisi agama: perubahan tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari kesadaran mendalam tentang apa yang salah.
Namun hadis ini juga memunculkan ironi sosial. Dalam budaya keagamaan hari ini, penyesalan kadang tampil sebagai performa: air mata yang tumpah di unggahan media sosial, pidato tobat selebritas, atau rekayasa publik yang menjadikan rasa bersalah sebagai konsumsi massa. Padahal nadam, dalam kacamata hadis, bekerja dalam ruang sunyi, bukan panggung.
Para pembaru modern seperti Fazlur Rahman membaca hadis semacam ini sebagai upaya Nabi menggeser moralitas dari ritualistik menuju etika otonom. Taubat bukan sekadar mengikuti tata cara, tetapi kerja batin yang melibatkan keberanian menatap diri sendiri tanpa tabir.