Reaksi atas Penyeragaman Mushaf Utsman: Begini Kata Ali bin Abi Thalib
Miftah yusufpati
Kamis, 11 Desember 2025 - 17:00 WIB
Dalam ketegangan itulah penyeragaman mushaf Utsman berdiri: langkah yang tak semua orang suka, tetapi hampir semua orang kini menikmati hasilnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dari Madinah hingga Kufah, dari Syam sampai Basrah, bara kecil itu menyebar cepat: kecaman terhadap keputusan Khalifah Utsman bin Affan membakar mushaf-mushaf yang tak sesuai dengan standar yang ia tetapkan.
Di satu sisi, keputusan itu dipuji sebagai langkah penyelamatan. Di sisi lain, ia dianggap sebagai preseden kekuasaan yang terlalu jauh menyentuh ruang privat para sahabat: mushaf-mushaf yang mereka hafal, ajarkan, dan jaga selama puluhan tahun.
Narasi klasik—dari Muhammad Husain Haekal hingga catatan Ibn Abi Dawud dalam Kitab al-Masahif—menggambarkan suasana tegang itu: antara kebutuhan mengamankan teks wahyu dengan rasa kehilangan para pemilik mushaf pribadi yang kini harus menyerah pada otoritas negara.
Di tengah riuh kritik, suara Ali bin Abi Talib justru melengking paling jernih. Ia menegaskan bahwa langkah Utsman bukan kerja sepihak. Ia disaksikan para sahabat besar, dan—bila ia sendiri yang dibaiat—Ali mengaku akan melakukan hal yang sama.
Pernyataan itu memperlihatkan sesuatu yang jarang dibicarakan: bahwa di balik kontroversi, terdapat konsensus diam-diam di antara elit intelektual masa itu bahwa fragmentasi qiraat adalah ancaman nyata. Studi modern seperti karya Harald Motzki dan François Déroche menegaskan kondisi tersebut: komunitas Muslim awal hidup dalam mobilitas tinggi, dikelilingi dialek yang beragam, dan mudah terpengaruh variasi lokal dalam penulisan serta pelafalan Qur'an.
Namun legitimasi keagamaan tak sepenuhnya meredam gelombang kritik.
Para penolak kebijakan itu umumnya berasal dari kelompok yang mempertahankan gaya hidup zuhud ala masa Nabi dan Umar. Mereka melihat pembangunan kembali Masjid Madinah dan pembakaran mushaf sebagai simbol perubahan kelas penguasa: dari kesederhanaan menjadi kemakmuran. Dalam perspektif sebagian mereka, Utsman dianggap terlalu lunak dan terlalu kaya—kombinasi yang memicu curiga dan kecemburuan.
Di satu sisi, keputusan itu dipuji sebagai langkah penyelamatan. Di sisi lain, ia dianggap sebagai preseden kekuasaan yang terlalu jauh menyentuh ruang privat para sahabat: mushaf-mushaf yang mereka hafal, ajarkan, dan jaga selama puluhan tahun.
Narasi klasik—dari Muhammad Husain Haekal hingga catatan Ibn Abi Dawud dalam Kitab al-Masahif—menggambarkan suasana tegang itu: antara kebutuhan mengamankan teks wahyu dengan rasa kehilangan para pemilik mushaf pribadi yang kini harus menyerah pada otoritas negara.
Di tengah riuh kritik, suara Ali bin Abi Talib justru melengking paling jernih. Ia menegaskan bahwa langkah Utsman bukan kerja sepihak. Ia disaksikan para sahabat besar, dan—bila ia sendiri yang dibaiat—Ali mengaku akan melakukan hal yang sama.
Pernyataan itu memperlihatkan sesuatu yang jarang dibicarakan: bahwa di balik kontroversi, terdapat konsensus diam-diam di antara elit intelektual masa itu bahwa fragmentasi qiraat adalah ancaman nyata. Studi modern seperti karya Harald Motzki dan François Déroche menegaskan kondisi tersebut: komunitas Muslim awal hidup dalam mobilitas tinggi, dikelilingi dialek yang beragam, dan mudah terpengaruh variasi lokal dalam penulisan serta pelafalan Qur'an.
Namun legitimasi keagamaan tak sepenuhnya meredam gelombang kritik.
Para penolak kebijakan itu umumnya berasal dari kelompok yang mempertahankan gaya hidup zuhud ala masa Nabi dan Umar. Mereka melihat pembangunan kembali Masjid Madinah dan pembakaran mushaf sebagai simbol perubahan kelas penguasa: dari kesederhanaan menjadi kemakmuran. Dalam perspektif sebagian mereka, Utsman dianggap terlalu lunak dan terlalu kaya—kombinasi yang memicu curiga dan kecemburuan.