Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 09 Mei 2026
home masjid detail berita

Reaksi atas Penyeragaman Mushaf Utsman: Begini Kata Ali bin Abi Thalib

miftah yusufpati Kamis, 11 Desember 2025 - 17:00 WIB
Reaksi atas Penyeragaman Mushaf Utsman: Begini Kata Ali bin Abi Thalib
Dalam ketegangan itulah penyeragaman mushaf Utsman berdiri: langkah yang tak semua orang suka, tetapi hampir semua orang kini menikmati hasilnya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dari Madinah hingga Kufah, dari Syam sampai Basrah, bara kecil itu menyebar cepat: kecaman terhadap keputusan Khalifah Utsman bin Affan membakar mushaf-mushaf yang tak sesuai dengan standar yang ia tetapkan.

Di satu sisi, keputusan itu dipuji sebagai langkah penyelamatan. Di sisi lain, ia dianggap sebagai preseden kekuasaan yang terlalu jauh menyentuh ruang privat para sahabat: mushaf-mushaf yang mereka hafal, ajarkan, dan jaga selama puluhan tahun.

Narasi klasik—dari Muhammad Husain Haekal hingga catatan Ibn Abi Dawud dalam Kitab al-Masahif—menggambarkan suasana tegang itu: antara kebutuhan mengamankan teks wahyu dengan rasa kehilangan para pemilik mushaf pribadi yang kini harus menyerah pada otoritas negara.

Di tengah riuh kritik, suara Ali bin Abi Talib justru melengking paling jernih. Ia menegaskan bahwa langkah Utsman bukan kerja sepihak. Ia disaksikan para sahabat besar, dan—bila ia sendiri yang dibaiat—Ali mengaku akan melakukan hal yang sama.

Pernyataan itu memperlihatkan sesuatu yang jarang dibicarakan: bahwa di balik kontroversi, terdapat konsensus diam-diam di antara elit intelektual masa itu bahwa fragmentasi qiraat adalah ancaman nyata. Studi modern seperti karya Harald Motzki dan François Déroche menegaskan kondisi tersebut: komunitas Muslim awal hidup dalam mobilitas tinggi, dikelilingi dialek yang beragam, dan mudah terpengaruh variasi lokal dalam penulisan serta pelafalan Qur'an.

Namun legitimasi keagamaan tak sepenuhnya meredam gelombang kritik.

Para penolak kebijakan itu umumnya berasal dari kelompok yang mempertahankan gaya hidup zuhud ala masa Nabi dan Umar. Mereka melihat pembangunan kembali Masjid Madinah dan pembakaran mushaf sebagai simbol perubahan kelas penguasa: dari kesederhanaan menjadi kemakmuran. Dalam perspektif sebagian mereka, Utsman dianggap terlalu lunak dan terlalu kaya—kombinasi yang memicu curiga dan kecemburuan.

Para pemikir modern seperti Wilferd Madelung dan Hugh Kennedy menunjukkan bahwa faktor sosial-ekonomi memainkan peran besar dalam oposisi terhadap Utsman. Dalam tiga dekade sejak kematian Nabi, dunia Arab berubah drastis: dari padang tandus menuju kekayaan yang mengalir dari Persia dan Bizantium. Bersamaan dengan itu, gagasan tentang apa yang dianggap ideal pun bergeser.

Bagi sebagian sahabat, hidup sederhana adalah cermin kemurnian agama. Bagi sebagian lainnya, kekayaan negara adalah fasilitas yang sah untuk digunakan. Keduanya beradu pandang dalam menilai tindakan Utsman.

Mereka yang menolak keputusan Utsman menilai mushaf adalah ruang otonom ilmu, bukan objek kebijakan negara. Namun mereka yang mendukungnya melihat standarisasi sebagai kebutuhan mendesak: tanpa satu rasm tunggal, umat akan berselisih sebagaimana komunitas agama-agama sebelumnya yang terpecah oleh versi kitab suci berbeda.

Penelitian manuskrip Qur'an kuno seperti proyek Corpus Coranicum Jerman dan kajian Déroche atas mushaf-mushaf awal menunjukkan bahwa Rasm Utsmani memang menetapkan stabilitas yang memungkinkan teks Qur'an bertahan tanpa perubahan signifikan hingga sekarang.

Pada akhirnya, reaksi terhadap kebijakan itu menyingkap dua wajah masyarakat Muslim awal: satu yang berpegang pada idealisme masa-masa keras pengorbanan, dan satu lagi yang siap menyesuaikan diri dengan dunia baru yang lebih makmur dan kompleks.

Dalam ketegangan itulah penyeragaman mushaf Utsman berdiri: langkah yang tak semua orang suka, tetapi hampir semua orang kini menikmati hasilnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 09 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)