Berakhirnya Khalifah Utsman bin Affan: Kemarahan Penduduk Kufah kepada Para Pejabat
Miftah yusufpati
Jum'at, 12 Desember 2025 - 16:30 WIB
Pada masa Utsman, badai itu tidak hanya merobohkan para pejabat. Ia meruntuhkan seorang khalifah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan, Kufah menjadi ladang subur bagi kemarahan yang tak terbendung. Kota itu, yang semula dirancang Umar sebagai pusat militer, berkembang menjadi arena politik paling gaduh di wilayah kekuasaan Islam awal. Di sanalah ketidakpuasan rakyat terhadap para pejabat daerah berubah menjadi badai yang akhirnya bergulung ke jantung pemerintahan.
Menurut Muhammad Husain Haekal, masalah di Kufah bukan sekadar urusan administrasi yang salah urus. Ia adalah gejala dari perubahan sosial yang terlalu cepat. Penduduk lama merasa kehilangan posisi. Pendatang baru menolak tunduk pada struktur sosial lama. Para tokoh yang dulu dihormati tak lagi didengar, sementara banyak pejabat yang ditunjuk dari pusat dianggap tidak memahami dinamika lokal.
Kemarahan itu pertama kali diarahkan kepada Sa'd bin Abi Waqqas, salah satu panglima besar yang turut menaklukkan Persia. Warga Kufah menganggapnya tidak responsif. Setelahnya, Walid bin Uqbah dituduh meminum khamar. Tuduhan itu, dicatat dalam karya Tabari, memperparah ketidakpercayaan masyarakat kepada pejabat pusat.
Ketika Utsman mengangkat Sa'id bin al-As sebagai gubernur baru, harapan muncul sesaat. Tetapi khutbah pertamanya justru membaca tanda-tanda malapetaka. Ia mengatakan bahwa bencana telah memperlihatkan sosoknya, dan ia hanya ingin memahami kondisi Kufah sebelum mengambil keputusan. Setelah menyelidiki, ia mengirim laporan kepada Khalifah: struktur sosial kota itu kacau, pendatang lebih dominan daripada para tokoh senior, dan kewibawaan para pejuang pendiri kota hampir tak berfungsi lagi.
Kemarahan rakyat, yang awalnya bersifat komunal, berubah menjadi politik. Kabilah-kabilah yang sebelumnya bersaing memperebutkan tanah rampasan kini bersatu dalam satu sentimen: ketidakpuasan terhadap pejabat Madinah. Sebagaimana diuraikan Hugh Kennedy dalam The Prophet and the Age of the Caliphates, Kufah selalu menjadi kota yang sukar dikendalikan karena kombinasi populasi yang mobil, para veteran perang yang merasa memiliki hak lebih, serta elite-elite lokal yang ingin ikut menentukan arah politik.
Di kota seperti itu, ketegangan kecil bisa membengkak menjadi pemberontakan sosial. Dan itulah yang terjadi.
Utsman, menyadari bahaya yang mengintai, menyampaikan khutbah di Madinah tentang kondisi di Kufah. Ia memperingatkan akan datangnya bencana dan menawarkan solusi: penduduk Medinah boleh memindahkan rampasan perang mereka ke tempat mana pun di jazirah Arab. Tanah di Hijaz, Yaman, dan daerah lain dapat dijual dan hasilnya dibawa pulang. Respons warga Medinah positif. Mereka gembira, merasa Allah telah membukakan jalan baru bagi mereka.
Menurut Muhammad Husain Haekal, masalah di Kufah bukan sekadar urusan administrasi yang salah urus. Ia adalah gejala dari perubahan sosial yang terlalu cepat. Penduduk lama merasa kehilangan posisi. Pendatang baru menolak tunduk pada struktur sosial lama. Para tokoh yang dulu dihormati tak lagi didengar, sementara banyak pejabat yang ditunjuk dari pusat dianggap tidak memahami dinamika lokal.
Kemarahan itu pertama kali diarahkan kepada Sa'd bin Abi Waqqas, salah satu panglima besar yang turut menaklukkan Persia. Warga Kufah menganggapnya tidak responsif. Setelahnya, Walid bin Uqbah dituduh meminum khamar. Tuduhan itu, dicatat dalam karya Tabari, memperparah ketidakpercayaan masyarakat kepada pejabat pusat.
Ketika Utsman mengangkat Sa'id bin al-As sebagai gubernur baru, harapan muncul sesaat. Tetapi khutbah pertamanya justru membaca tanda-tanda malapetaka. Ia mengatakan bahwa bencana telah memperlihatkan sosoknya, dan ia hanya ingin memahami kondisi Kufah sebelum mengambil keputusan. Setelah menyelidiki, ia mengirim laporan kepada Khalifah: struktur sosial kota itu kacau, pendatang lebih dominan daripada para tokoh senior, dan kewibawaan para pejuang pendiri kota hampir tak berfungsi lagi.
Kemarahan rakyat, yang awalnya bersifat komunal, berubah menjadi politik. Kabilah-kabilah yang sebelumnya bersaing memperebutkan tanah rampasan kini bersatu dalam satu sentimen: ketidakpuasan terhadap pejabat Madinah. Sebagaimana diuraikan Hugh Kennedy dalam The Prophet and the Age of the Caliphates, Kufah selalu menjadi kota yang sukar dikendalikan karena kombinasi populasi yang mobil, para veteran perang yang merasa memiliki hak lebih, serta elite-elite lokal yang ingin ikut menentukan arah politik.
Di kota seperti itu, ketegangan kecil bisa membengkak menjadi pemberontakan sosial. Dan itulah yang terjadi.
Utsman, menyadari bahaya yang mengintai, menyampaikan khutbah di Madinah tentang kondisi di Kufah. Ia memperingatkan akan datangnya bencana dan menawarkan solusi: penduduk Medinah boleh memindahkan rampasan perang mereka ke tempat mana pun di jazirah Arab. Tanah di Hijaz, Yaman, dan daerah lain dapat dijual dan hasilnya dibawa pulang. Respons warga Medinah positif. Mereka gembira, merasa Allah telah membukakan jalan baru bagi mereka.