home masjid

Etika Bumi dari Ajaran Islam di Tengah Krisis Iklim dan Kerusakan Ekologis

Sabtu, 13 Desember 2025 - 04:15 WIB
Krisis lingkungan tidak menunggu manusia berdebat. Banjir akan datang meski forum diskusi belum selesai. Hutan bisa habis meski seminar ekologi digelar berulang. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Fenomena cuaca ekstrem beberapa tahun terakhir membuat banyak kota serasa hidup dalam ketidakpastian: hujan datang pada bulan kemarau, panas menanjak tanpa jeda, dan banjir berubah menjadi agenda tahunan. Di ruang-ruang diskusi ilmiah, para ahli menyebut perilaku manusia sebagai pemicu utama gangguan ekologi. Kesimpulan itu kini terdengar seperti gema yang sudah ribuan tahun lalu diucapkan teks-teks agama.

Salah satu ayat yang kembali dipetik dalam diskusi tentang etika lingkungan berbunyi:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah diciptakan dengan baik; dan berdoalah kepada-Nya dengan takut dan harap. Rahmat Allah dekat bagi mereka yang berbuat baik. [al-A’râf/7:56]

Para ahli tafsir klasik membaca ayat itu bukan hanya sebagai larangan moral, tetapi diagnosis atas krisis peradaban. Abu Bakar bin ‘Ayyâsy melihat kerusakan sebagai akibat abainya manusia terhadap ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Ath-Thabari menafsirkan larangan merusak bumi sebagai larangan syirik dan maksiat—dua bentuk perilaku yang dinilai mengguncang tatanan kosmik dan sosial. Ibnul Qayyim memandang syirik dan pelanggaran terhadap syariat sebagai kerusakan terdalam yang kemudian memancar menjadi bencana-bencana ekologis.

Membaca tafsir itu dalam konteks modern seperti menghubungkan dua dunia: spiritual dan saintifik. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan kerusakan lingkungan berakar dari perilaku manusia—eksploitasi lahan besar-besaran, konsumsi yang berlebihan, hingga sistem ekonomi yang menempatkan alam sebagai objek tanpa batas. Kajian-kajian ekologi, semisal tulisan James Lovelock tentang Gaia atau pendekatan ekologi manusia ala Eugene Odum, menggambarkan bumi sebagai sistem yang kesimbangannya mudah terganggu oleh perilaku manusia.

Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Man and Nature menyebut krisis ekologis sebagai krisis spiritual: manusia modern kehilangan rasa takut dan harap, dua energi batin yang disebut ayat itu sebagai landasan etika. Nasr menilai modernitas membebaskan manusia dari batasan moral hingga tak lagi merasa perlu menjaga keseimbangan alam.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya