home masjid

Al-Quran sebagai Kitab Hidayah, Bukan Kitab Segala Jawaban

Rabu, 24 Desember 2025 - 16:00 WIB
Seseorang tidak dapat membenarkan satu teori ilmiah atau penemuan baru dengan ayat-ayat Al-Quran. Ilustrasi: Ist

LANGIT7.ID-Dorongan untuk menjadikan Al-Quran sebagai rujukan atas segala persoalan kerap berujung pada pembacaan yang keliru. Setiap temuan sains, persoalan sosial, hingga teori filsafat modern dicari pembenarannya dalam ayat-ayat wahyu. Cara baca semacam ini, menurut Quraish Shihab, justru menjauhkan Al-Quran dari tujuan utamanya.

Dalam Membumikan Al-Quran, Quraish Shihab menegaskan bahwa Al-Quran adalah kitab hidayah. Ia hadir untuk membimbing manusia dalam tiga wilayah pokok: akidah, tasyri’, dan akhlak. Ketiganya menjadi fondasi kebahagiaan manusia, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Sejarah turunnya wahyu memperlihatkan konsistensi tujuan tersebut. Ketika Nabi Muhammad ditanya tentang perubahan bentuk bulan, Al-Quran tidak memberikan penjelasan astronomis. Jawabannya bersifat normatif dan fungsional: bulan menjadi penanda waktu dan ibadah. Demikian pula ketika manusia bertanya tentang hakikat ruh, wahyu memilih diam dari spekulasi ilmiah dan menegaskan keterbatasan pengetahuan manusia.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Al-Quran tidak bermaksud menjelaskan rahasia alam secara teknis. Mahmud Syaltut, mantan Grand Syaikh Al-Azhar, menyebut Al-Quran bukan kitab haqaiq al-kawn, melainkan kitab petunjuk, perbaikan sosial, dan penetapan nilai. Ayat-ayat kauniyah hadir sebagai tanda, bukan sebagai rumus.

Pemikir Muslim kontemporer Fazlur Rahman melihat fungsi utama Al-Quran sebagai pemberi orientasi moral. Alam dan sejarah disebut bukan untuk memenuhi rasa ingin tahu manusia, melainkan untuk membentuk kesadaran etis. Dari kesadaran itulah lahir tanggung jawab sosial dan spiritual.

Karena itu, ayat-ayat yang menyatakan bahwa Al-Quran menjelaskan segala sesuatu tidak dapat dipahami secara literal sebagai mencakup seluruh ilmu pengetahuan. Penjelasan itu berkaitan dengan tujuan pokok wahyu. Segala hal yang diperlukan manusia untuk mengenal Tuhan, mengatur kehidupan bersama, dan membentuk akhlak telah dijelaskan secara prinsipil.

Toshihiko Izutsu dalam kajian semantiknya menunjukkan bahwa kosmos Al-Quran adalah kosmos bernilai. Langit, bumi, dan manusia terikat dalam jaringan makna yang mengarah pada keesaan Tuhan. Membaca Al-Quran sebagai buku sains justru mereduksi dimensi nilai tersebut.

Di tengah godaan menjadikan wahyu sebagai legitimasi semua hal, penegasan Al-Quran sebagai kitab hidayah menjadi penting. Ia bukan hadir untuk menggantikan kerja akal dan riset manusia, melainkan untuk menuntun arah penggunaannya. Al-Quran memberi kompas, bukan peta detail.

Dengan cara pandang ini, Al-Quran tetap relevan di setiap zaman. Bukan karena ia menjawab semua pertanyaan teknis, tetapi karena ia terus mengarahkan manusia pada makna, tanggung jawab, dan tujuan hidup yang melampaui zaman.

(mif)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya