AS Bakal Rebut Greenland dalam Berbagai Opsi, Salah Satunya Melalui Militer
Lusi mahgriefie
Rabu, 07 Januari 2026 - 07:05 WIB
Greenland telah memiliki pemerintahan sendiri sejak tahun 1979, meskipun pertahanan dan kebijakan luar negeri tetap berada di tangan Denmark. Sumber: Ist
Saat ini Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah membahas "berbagai opsi" untuk bisa merebut dan menguasai Greenland, termasuk penggunaan militer.
Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengatakan kepada BBC bahwa memperoleh Greenland adalah "prioritas keamanan nasional".
Hal ini terjadi setelah Trump mengulangi pernyataannya pada akhir pekan bahwa AS "membutuhkan" Greenland, wilayah semi-otonom milik Denmark, anggota NATO lainnya, untuk alasan keamanan.
Pernyataan Gedung Putih juga dikeluarkan beberapa jam setelah para pemimpin Eropa bersatu mendukung Denmark, yang Perdana Menterinya, Mette Frederiksen, memperingatkan pada hari Senin bahwa serangan apa pun oleh AS akan mengakhiriNATO.
Gedung Putih menyatakan pada hari Selasa: "Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi Panglima Tertinggi."
NATO adalah kelompok militer trans-Atlantik di mana sekutu diharapkan saling membantu jika terjadi serangan eksternal.
Baca juga:Kemenlu Sampaikan Kondisi 37 WNI di Venezuela Pascaserangan AS, Terpantau Aman
Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengatakan kepada BBC bahwa memperoleh Greenland adalah "prioritas keamanan nasional".
Hal ini terjadi setelah Trump mengulangi pernyataannya pada akhir pekan bahwa AS "membutuhkan" Greenland, wilayah semi-otonom milik Denmark, anggota NATO lainnya, untuk alasan keamanan.
Pernyataan Gedung Putih juga dikeluarkan beberapa jam setelah para pemimpin Eropa bersatu mendukung Denmark, yang Perdana Menterinya, Mette Frederiksen, memperingatkan pada hari Senin bahwa serangan apa pun oleh AS akan mengakhiriNATO.
Gedung Putih menyatakan pada hari Selasa: "Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi Panglima Tertinggi."
NATO adalah kelompok militer trans-Atlantik di mana sekutu diharapkan saling membantu jika terjadi serangan eksternal.
Baca juga:Kemenlu Sampaikan Kondisi 37 WNI di Venezuela Pascaserangan AS, Terpantau Aman