Isra’ Mi’raj: Menemukan Titik Temu Antara Kejar Dunia dan Takwa
Tim langit 7
Jum'at, 16 Januari 2026 - 16:49 WIB
Isra Miraj: Menemukan Titik Temu Antara Kejar Dunia dan Takwa
Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar fragmen sejarah yang diperingati setiap tahun. Di balik perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’) dan pendakian menuju Sidratul Muntaha (Mi’raj), tersimpan filosofi mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya menyeimbangkan dua dimensi kehidupan: horizontal dan vertikal.
Harmonisasi Perjalanan Horizontal dan Vertikal
Dalam kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam perjalanan horizontal. Ini adalah dimensi duniawi—tempat kita bekerja, berpolitik, membangun ekonomi, dan mengurus tetek bengek kehidupan sehari-hari. Namun, Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa gerak horizontal ini akan kehilangan arah jika tidak dibarengi dengan dimensi vertikal.
Setiap langkah yang kita ambil di bumi harus di-"Mi’raj"-kan. Artinya, segala urusan ekonomi maupun politik harus dikomunikasikan dan disubstansiasi dengan kehendak Allah SWT. Bekerja bukan sekadar mencari materi, melainkan bentuk pengabdian agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan.
LANGIT7.ID-Perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar fragmen sejarah yang diperingati setiap tahun. Di balik perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’) dan pendakian menuju Sidratul Muntaha (Mi’raj), tersimpan filosofi mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya menyeimbangkan dua dimensi kehidupan: horizontal dan vertikal.
Harmonisasi Perjalanan Horizontal dan Vertikal
Dalam kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam perjalanan horizontal. Ini adalah dimensi duniawi—tempat kita bekerja, berpolitik, membangun ekonomi, dan mengurus tetek bengek kehidupan sehari-hari. Namun, Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa gerak horizontal ini akan kehilangan arah jika tidak dibarengi dengan dimensi vertikal.
Setiap langkah yang kita ambil di bumi harus di-"Mi’raj"-kan. Artinya, segala urusan ekonomi maupun politik harus dikomunikasikan dan disubstansiasi dengan kehendak Allah SWT. Bekerja bukan sekadar mencari materi, melainkan bentuk pengabdian agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan.