Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar fragmen sejarah yang diperingati setiap tahun. Di balik perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’) dan pendakian menuju Sidratul Muntaha (Mi’raj), tersimpan filosofi mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya menyeimbangkan dua dimensi kehidupan: horizontal dan vertikal.
Harmonisasi Perjalanan Horizontal dan VertikalDalam kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam perjalanan horizontal. Ini adalah dimensi duniawi—tempat kita bekerja, berpolitik, membangun ekonomi, dan mengurus tetek bengek kehidupan sehari-hari. Namun, Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa gerak horizontal ini akan kehilangan arah jika tidak dibarengi dengan dimensi vertikal.
Setiap langkah yang kita ambil di bumi harus di-"Mi’raj"-kan. Artinya, segala urusan ekonomi maupun politik harus dikomunikasikan dan disubstansiasi dengan kehendak Allah SWT. Bekerja bukan sekadar mencari materi, melainkan bentuk pengabdian agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan.
Sholat: Jangkar di Tengah Arus DuniaIntisari dari peristiwa Mi’raj adalah perintah sholat lima waktu. Ibadah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan mekanisme kendali otomatis bagi manusia. Sesibuk apa pun urusan duniawi, sholat hadir sebagai pengingat untuk kembali ke poros vertikal.
Sesuai dengan esensi Surah Al-Ankabut ayat 45, sholat berfungsi sebagai benteng dari perbuatan keji dan munkar. Jika hidup seseorang masih dihiasi oleh kemaksiatan atau pelanggaran moral, hal itu menjadi alarm bahwa kualitas komunikasinya dengan Sang Pencipta sedang bermasalah.
Iman yang Pasang Surut dan Tantangan IntegritasRealitas kemanusiaan kita sering kali terjebak dalam kondisi iman yang yazid wa yanqush—naik dan turun. Imam Syafii telah mengingatkan fenomena ini, di mana iman bisa menguat namun bisa juga meredup.
Bahkan, dalam perspektif yang lebih tajam, perilaku menyimpang seperti pencurian atau korupsi adalah bukti nyata saat iman sedang "terbang" dari dalam diri. Di sinilah relevansi sholat lima waktu menjadi sangat krusial. Ia berfungsi sebagai pengisi daya spiritual agar iman tidak benar-benar hilang di tengah godaan dunia yang begitu kuat.
Cinta dari Langit dan BumiMeneladani Isra’ Mi’raj berarti belajar untuk tidak menjadi manusia yang pincang. Manusia yang sukses secara utuh adalah mereka yang mampu menjaga hubungan baik dengan Allah (Hablum Minallah) sekaligus menjaga integritas di tengah manusia (Hablum Minannas).
Ketika seseorang mampu menjaga ritme komunikasinya dengan Yang Maha Tinggi, maka karakter mulia akan terbentuk dengan sendirinya. Hasil akhirnya sangat indah: ia tidak hanya akan dicintai oleh penghuni langit, tetapi juga akan menjadi pribadi yang dipercaya dan dicintai oleh sesama makhluk di bumi. (Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, serta Wakil ketua umum MUI)
(lam)