Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 10 Mei 2026
home masjid detail berita

Isra Miraj: Menemukan Titik Temu Antara Kejar Dunia dan Takwa

tim langit 7 Jum'at, 16 Januari 2026 - 16:49 WIB
Isra Miraj: Menemukan Titik Temu Antara Kejar Dunia dan Takwa
Oleh: Anwar Abbas


LANGIT7.ID-Perjalanan agung Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar fragmen sejarah yang diperingati setiap tahun. Di balik perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra’) dan pendakian menuju Sidratul Muntaha (Mi’raj), tersimpan filosofi mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya menyeimbangkan dua dimensi kehidupan: horizontal dan vertikal.

Harmonisasi Perjalanan Horizontal dan Vertikal

Dalam kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam perjalanan horizontal. Ini adalah dimensi duniawi—tempat kita bekerja, berpolitik, membangun ekonomi, dan mengurus tetek bengek kehidupan sehari-hari. Namun, Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa gerak horizontal ini akan kehilangan arah jika tidak dibarengi dengan dimensi vertikal.

Setiap langkah yang kita ambil di bumi harus di-"Mi’raj"-kan. Artinya, segala urusan ekonomi maupun politik harus dikomunikasikan dan disubstansiasi dengan kehendak Allah SWT. Bekerja bukan sekadar mencari materi, melainkan bentuk pengabdian agar tidak bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan.

Sholat: Jangkar di Tengah Arus Dunia

Intisari dari peristiwa Mi’raj adalah perintah sholat lima waktu. Ibadah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan mekanisme kendali otomatis bagi manusia. Sesibuk apa pun urusan duniawi, sholat hadir sebagai pengingat untuk kembali ke poros vertikal.

Sesuai dengan esensi Surah Al-Ankabut ayat 45, sholat berfungsi sebagai benteng dari perbuatan keji dan munkar. Jika hidup seseorang masih dihiasi oleh kemaksiatan atau pelanggaran moral, hal itu menjadi alarm bahwa kualitas komunikasinya dengan Sang Pencipta sedang bermasalah.

Iman yang Pasang Surut dan Tantangan Integritas

Realitas kemanusiaan kita sering kali terjebak dalam kondisi iman yang yazid wa yanqush—naik dan turun. Imam Syafii telah mengingatkan fenomena ini, di mana iman bisa menguat namun bisa juga meredup.

Bahkan, dalam perspektif yang lebih tajam, perilaku menyimpang seperti pencurian atau korupsi adalah bukti nyata saat iman sedang "terbang" dari dalam diri. Di sinilah relevansi sholat lima waktu menjadi sangat krusial. Ia berfungsi sebagai pengisi daya spiritual agar iman tidak benar-benar hilang di tengah godaan dunia yang begitu kuat.

Cinta dari Langit dan Bumi

Meneladani Isra’ Mi’raj berarti belajar untuk tidak menjadi manusia yang pincang. Manusia yang sukses secara utuh adalah mereka yang mampu menjaga hubungan baik dengan Allah (Hablum Minallah) sekaligus menjaga integritas di tengah manusia (Hablum Minannas).

Ketika seseorang mampu menjaga ritme komunikasinya dengan Yang Maha Tinggi, maka karakter mulia akan terbentuk dengan sendirinya. Hasil akhirnya sangat indah: ia tidak hanya akan dicintai oleh penghuni langit, tetapi juga akan menjadi pribadi yang dipercaya dan dicintai oleh sesama makhluk di bumi. (Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, serta Wakil ketua umum MUI)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 10 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)