Oleh: Anwar AbbasLANGIT7.ID-Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah ancaman keras dilontarkan oleh Donald Trump terhadap berbagai infrastruktur strategis di Iran. Mulai dari fasilitas energi, situs militer, hingga jembatan vital disebut sebagai target potensial. Pola pendekatan ini jika ditarik ke dalam analogi sepak bola, mencerminkan strategi menyerang total yang selama ini dikenal dalam dunia taktik olahraga.
Gaya tersebut mengingatkan pada filosofi permainan menyerang yang dipopulerkan oleh Johan Cruyff, sosok yang dikenal sebagai bapak “total football”. Ia menanamkan prinsip bahwa serangan terus-menerus akan membuat lawan kehilangan kesempatan untuk berkembang. Pendekatan serupa juga pernah ditegaskan oleh Alex Ferguson, yang menyebut bahwa pertahanan terbaik adalah serangan yang efektif. Filosofi ini diperkuat oleh Pep Guardiola, yang menjadikan dominasi serangan sebagai cara utama menutup ruang bagi lawan.
Dalam konteks ini, strategi agresif yang ditunjukkan Trump mencerminkan pendekatan tersebut: menekan tanpa henti agar lawan tidak memiliki waktu dan ruang untuk merespons secara optimal. Iran, dalam situasi ini, dihadapkan pada tekanan konstan yang memaksanya untuk terus bertahan tanpa celah.
Namun, dalam dunia strategi—baik militer maupun sepak bola—bertahan saja tidak pernah cukup. Justru di titik inilah Iran perlu mengadopsi pendekatan berbeda. Bukan hanya bertahan, tetapi juga melengkapi dengan strategi serangan balik yang terukur dan efektif.
Konsep ini bukan hal baru. Herbert Chapman dikenal sebagai pelopor strategi counter-attack, sebuah pendekatan yang mengandalkan efisiensi dan momentum. Strategi ini kemudian berkembang dan dipopulerkan kembali oleh José Mourinho dalam berbagai klub besar yang ia tangani, termasuk Real Madrid. Mourinho membuktikan bahwa tim tidak harus selalu mendominasi permainan untuk menang—cukup dengan membaca celah dan menyerang di waktu yang tepat.
Pendekatan inilah yang dapat menjadi alternatif bagi Iran dalam menghadapi tekanan. Ketika satu pihak terus menerus menyerang, celah pasti akan terbuka. Dalam kondisi tersebut, serangan balik yang presisi dapat menjadi alat untuk menciptakan keseimbangan kekuatan.
Lebih jauh, tekanan balik yang terukur terhadap titik-titik strategis lawan berpotensi mengubah dinamika konflik. Bukan sekadar sebagai bentuk respons, tetapi juga sebagai upaya menciptakan efek psikologis yang dapat memengaruhi opini publik dan stabilitas internal pihak lawan.
Pada akhirnya, konflik yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kedua negara yang terlibat, tetapi juga pada stabilitas global. Ketegangan yang terus meningkat berpotensi mengganggu perekonomian dunia, memperlebar ketidakpastian, dan memperpanjang rantai konflik yang tidak berujung.
Harapan terbesar tentu terletak pada meredanya eskalasi dan kembalinya stabilitas global. Dunia membutuhkan keseimbangan, bukan dominasi sepihak. Ketika strategi berubah dari konfrontasi menuju pengendalian, peluang menuju perdamaian akan semakin terbuka. (Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan)
(lam)