Meneladani Filosofi Petani, Pesan Mustasyar PBNU Tentang Rahasia Panen di Akhirat
LANGIT7.ID-Jakarta; Konsep sebab-akibat dalam kehidupan manusia sejatinya serupa dengan aktivitas pertanian di ladang. Prinsip tersebut menjadi inti pesan yang disampaikan oleh Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Idris Hamid, mengenai cara manusia menata amal perbuatan demi bekal di masa depan.
Dalam pengajian Ihya Ulumuddin di Pondok Pesantren Salafiyah Kota Pasuruan, Jumat (16/01/2026), Kiai Idris menekankan bahwa hasil yang akan dipanen di akhirat sangat bergantung pada apa yang dikerjakan manusia selama di dunia. Ia memberikan perumpamaan bahwa hati manusia berperan sebagai tanah, iman sebagai benih, dan amal perbuatan merupakan proses perawatannya.
“Hati ini seperti tanah, dan iman seperti biji-bijian. Jika bijinya bagus maka hasilnya bagus. Namun jika benihnya jelek, maka panennya juga jelek,” terangnya, dilansir dari situs NU, Senin (19/1/2026).
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah tersebut, hukum sebab-akibat bersifat mutlak. Seseorang yang mengharapkan kebahagiaan di akhirat namun gemar bermaksiat di dunia diibaratkan seperti petani yang mengharap panen melimpah tetapi menanam benih yang rusak dan malas merawat ladangnya.
Kiai Idris menjelaskan lebih lanjut mengenai filosofi tersebut. “Filosofi hidup itu seperti bertani, ada sebab dan akibat. Jika sebabnya baik, akibatnya baik. Jika sebabnya jelek, akibatnya juga jelek,” ungkapnya.
Proses perbaikan diri secara konsisten juga disamakan dengan rutinitas petani dalam mencangkul, membersihkan gulma, serta memberi pupuk pada tanaman. Hal ini bertujuan agar kualitas hidup manusia terus meningkat dan sisa-sisa keburukan dapat dibuang.
“Kehidupan harus terus diolah. Yang jelek dibuang, yang baik dirawat dan ditambah, seperti petani memilih hasil panennya,” jelasnya.