Tegalsari dan Gontor Sebagai Muara Kepemimpinan Nasional (1)
Muhajirin
Rabu, 14 Juli 2021 - 16:25 WIB
Bangunan pendopo yang masih tersisa dari Pesantren Tegalsari di Ponorogo (foto: istimewa)
Pesantren Tegalsari yang kemudian dilanjutkan hari ini oleh Pondok Modern Darussalam Gontor adalah salah satu muara kepemimpinan nasional. Hal tersebut pernah disampaikan oleh Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurut Gus Dur, sebagaimana dikutip Abdul Munir Mulkan dalam Buku Reinventing Indonesia, ada dua muara kepemimpinan nasional: kalau bukan dari raja-raja Jawa ya dari Kiai Kasan Besari Tegalsari.
Sementara Cucu salah satu pendiri Gontor KH Zainuddin Fanani yang juga masih keturunan Kiai Kasan Besari, Prof. DR. Husnan Bey Fananie, mengatakan, Tegalsari dilanjutkan Gontor berkontribusi dalam membangun karakter para pemimpin bangsa, seperti Ir. Soekarno.
“Pondok Gontor adalah warisan atau kelanjutan dari sebuah lembaga pendidikan besar yang membangun putra-putra bangsa yang bernama Tegalsari, yang didirikan Kiai Kasan Besari,” kata Husnan dalam webinar Pendiri Gontor di Pusaran Pergerakan Kemerdekaan Republik Indonesia yang disiarkan melalui akun Youtube Etifaq Prodction, dikutip Rabu (13/7/2021).
Sosok Ulama tanah Jawa, Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari atau Kiai Kasan Besari, adalah pendiri Pesantren Tegalsari pada awal abad ke-18 M di Ponorogo. Pesantren itu mengkombinasikan dua kutub antara Islam dan Nasionalisme. Beliau adalah keturunan Pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya, dari jalur ayah. Dari jalur ibu, nasab Kiai Besari sampai kepada Rasulullah SAW melalui garis Sayyidah Fatimah Az-Zahra.
Dari Pesantren yang didirikan Kiai Kasan Besari, lahir sosok Pakubuwono II yang menjadi Sultan Kartasura, Raden Ngabehi Ronggowarsito sastrawan Kesultanan Kartasura hingga H.O.S Cokroaminoto yang tokoh pergerakan nasional yang dijuluki sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota. Keilmuan Kiai Kasan Besari juga sampai pada KH Hasyim Asy’ari yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
“Kiai Hasan Besari ini melahirkan murid-murid yang luar biasa. Di antara adalah H.O.S Cokroaminoto, Ronggowarsito, termasuk murid-murid beliau. Mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini. Cokroaminoto memiliki santri, santri itu di antaranya Ir Soekarno, Agus Salim, Kartosuwiryo, Semaun, Muso hingga Sutan Syahrir,” terang Husnan.
Dari Tegalsari ke Gontor
Sementara Cucu salah satu pendiri Gontor KH Zainuddin Fanani yang juga masih keturunan Kiai Kasan Besari, Prof. DR. Husnan Bey Fananie, mengatakan, Tegalsari dilanjutkan Gontor berkontribusi dalam membangun karakter para pemimpin bangsa, seperti Ir. Soekarno.
“Pondok Gontor adalah warisan atau kelanjutan dari sebuah lembaga pendidikan besar yang membangun putra-putra bangsa yang bernama Tegalsari, yang didirikan Kiai Kasan Besari,” kata Husnan dalam webinar Pendiri Gontor di Pusaran Pergerakan Kemerdekaan Republik Indonesia yang disiarkan melalui akun Youtube Etifaq Prodction, dikutip Rabu (13/7/2021).
Sosok Ulama tanah Jawa, Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari atau Kiai Kasan Besari, adalah pendiri Pesantren Tegalsari pada awal abad ke-18 M di Ponorogo. Pesantren itu mengkombinasikan dua kutub antara Islam dan Nasionalisme. Beliau adalah keturunan Pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya, dari jalur ayah. Dari jalur ibu, nasab Kiai Besari sampai kepada Rasulullah SAW melalui garis Sayyidah Fatimah Az-Zahra.
Dari Pesantren yang didirikan Kiai Kasan Besari, lahir sosok Pakubuwono II yang menjadi Sultan Kartasura, Raden Ngabehi Ronggowarsito sastrawan Kesultanan Kartasura hingga H.O.S Cokroaminoto yang tokoh pergerakan nasional yang dijuluki sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota. Keilmuan Kiai Kasan Besari juga sampai pada KH Hasyim Asy’ari yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.
“Kiai Hasan Besari ini melahirkan murid-murid yang luar biasa. Di antara adalah H.O.S Cokroaminoto, Ronggowarsito, termasuk murid-murid beliau. Mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini. Cokroaminoto memiliki santri, santri itu di antaranya Ir Soekarno, Agus Salim, Kartosuwiryo, Semaun, Muso hingga Sutan Syahrir,” terang Husnan.
Dari Tegalsari ke Gontor