Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Tegalsari dan Gontor Sebagai Muara Kepemimpinan Nasional (1)

Muhajirin Rabu, 14 Juli 2021 - 16:25 WIB
Tegalsari dan Gontor Sebagai Muara Kepemimpinan Nasional (1)
Bangunan pendopo yang masih tersisa dari Pesantren Tegalsari di Ponorogo (foto: istimewa)
LANGIT7.ID - Pesantren Tegalsari yang kemudian dilanjutkan hari ini oleh Pondok Modern Darussalam Gontor adalah salah satu muara kepemimpinan nasional. Hal tersebut pernah disampaikan oleh Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Menurut Gus Dur, sebagaimana dikutip Abdul Munir Mulkan dalam Buku Reinventing Indonesia, ada dua muara kepemimpinan nasional: kalau bukan dari raja-raja Jawa ya dari Kiai Kasan Besari Tegalsari.

Sementara Cucu salah satu pendiri Gontor KH Zainuddin Fanani yang juga masih keturunan Kiai Kasan Besari, Prof. DR. Husnan Bey Fananie, mengatakan, Tegalsari dilanjutkan Gontor berkontribusi dalam membangun karakter para pemimpin bangsa, seperti Ir. Soekarno.

“Pondok Gontor adalah warisan atau kelanjutan dari sebuah lembaga pendidikan besar yang membangun putra-putra bangsa yang bernama Tegalsari, yang didirikan Kiai Kasan Besari,” kata Husnan dalam webinar Pendiri Gontor di Pusaran Pergerakan Kemerdekaan Republik Indonesia yang disiarkan melalui akun Youtube Etifaq Prodction, dikutip Rabu (13/7/2021).

Sosok Ulama tanah Jawa, Kiai Ageng Muhammad Hasan Besari atau Kiai Kasan Besari, adalah pendiri Pesantren Tegalsari pada awal abad ke-18 M di Ponorogo. Pesantren itu mengkombinasikan dua kutub antara Islam dan Nasionalisme. Beliau adalah keturunan Pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya, dari jalur ayah. Dari jalur ibu, nasab Kiai Besari sampai kepada Rasulullah SAW melalui garis Sayyidah Fatimah Az-Zahra.

Dari Pesantren yang didirikan Kiai Kasan Besari, lahir sosok Pakubuwono II yang menjadi Sultan Kartasura, Raden Ngabehi Ronggowarsito sastrawan Kesultanan Kartasura hingga H.O.S Cokroaminoto yang tokoh pergerakan nasional yang dijuluki sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota. Keilmuan Kiai Kasan Besari juga sampai pada KH Hasyim Asy’ari yang kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.

“Kiai Hasan Besari ini melahirkan murid-murid yang luar biasa. Di antara adalah H.O.S Cokroaminoto, Ronggowarsito, termasuk murid-murid beliau. Mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa ini. Cokroaminoto memiliki santri, santri itu di antaranya Ir Soekarno, Agus Salim, Kartosuwiryo, Semaun, Muso hingga Sutan Syahrir,” terang Husnan.

Dari Tegalsari ke Gontor

Kiai Hasan Besari memiliki putri bernama Halifah yang dinikahkan dengan seorang santri dari Cirebon, KH Sulaiman Raden Jamaluddin. Sulaiman Jamaluddin hidup pada pertengahan abad ke-19. Ia merupakan keturunan ke-4 dari Keraton Cirebon yang silsilahnya sampai kepada Walisongo Sunan Gunung Jati (1448-1568).

Sulaiman adalah santri teladan Tegalsari, pesantren yang masyhur pada abad ke-18 dan ke-19. Letak pesantren pada zaman bahari itu kira-kira 10 kilometer dari Kota Ponorogo menuju arah Pacitan ataupun Trenggalek, sampai di Jetis menyimpang ke timur.

Setelah menikahi Halifah, Sulaiman diberikan amanah untuk membangun berdakwah di selatan Tegalsari, seberang Sungai Malo. Daerah itu merupakan pusat maksiat, sehingga dikatakan Panggon Kotor. “Panggon Kotor, tempat madat, semuanya. Orang bermaksiat di situ. Makanya disebut Panggon Kotor. Lalu kemudian disebut Gontor,” ucap Husnan.

Jamaluddin memegang teguh ajaran Kiai Kasan Besari saat merintis pondok di Desa Gontor. Beliau berdiam di tempat itu sampai akhir hayatnya. Dia mempunyai putra bernama Kiai Arham Anom Besari yang kemudian dijadikan menantu oleh cucu Kanjeng Nglarangan. Waktu itu, Kanjeng Nglarangan memiliki kedudukan tinggi sebagai Bupati Polorejo (Ponorogo lama).

Kiai Arham Anom Besari lalu memiliki seorang putra bernama Raden Santoso Anom Besari, yang menikah dengan seorang putri keturunan Kanjeng Bupati Suryodiningrat. Raden Santoso Anom Besari inilah yang memiliki keturunan tiga orang pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dikutip dari Boekoe Peringatan 15 Tahoen Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, pada kepemimpinan Raden Santoso Anom Besari, Pondok Gontor Lama mengalami masa kemunduran. Raden Santoso harus berjuang sendiri. Saudara-saudara beliau tak sanggup menggantikan dan mempertahankan keberadaan Pondok Gontor Lama.

Dalam kondisi pasang surut Pondok Gontor Lama, Nyai Santoso bekerja keras mendidik putra-putrinya agar dapat meneruskan perjuangan menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama.

“Arham Anom Besari ini punya anak bernama Santoso Anom Besari. Kemudian Santoso Anom Besari memiliki tujuh anak, pertama adalah putra kemudian anak kedua sampai keempat adalah putri, dan kelima sampai ketujuh adalah putra. Itulah yang terakhir kita sebut sebagai Trimurti pendiri Gontor,” ucap Husnan.

Berkat didikan Nyai Santoso dengan penuh keteguhan hati, Trimurti mampu mewujudkan cita-cita sang ayah dan mengembangkan Gontor. Ia membangun kembali Gontor Baru, yang saat ini dikenal dengan Pondok Modern Darussalam Gontor. Jejak sejarah itu masih berdiri kokoh hingga saat ini. Bahkan hampir memasuki usia satu abad.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)