Kolom Ekonomi Syariah: Bela dan beli swasta
Tim langit 7
Senin, 26 Januari 2026 - 09:56 WIB
Kolom Ekonomi Syariah: Bela dan beli swasta
Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Swasta sudah disalah fahami misalnya dengan mitos sembilan naga, yaitu raja bisnis yang sangat kaya dan memiliki katakanlah armada keamanan sendiri. Seolah olah bisnis sembilan naga tanpa resiko dan hanya mengeruk keuntungan berbasis sumber daya alam dan ijin pemerintah. Ijin itu sendiri diragukan oleh masyarakat tidak mengandung un saiun dengan pejabat pemerintah. Oleh karenanya menjadikan swasta besar menjadi katakanlah kebal hukum.
Mengapa swasta besar sangat dihargai dan semacam dilindungi oleh pemerintah dan penegak hukum, bagi negara keberadaannya sangat vital. Mereka adalah pembayar pajak terbesar yang menyangkut kelangsungan negara. Mereka juga sumber pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang berangka rendah membuat celah kestabilan politik pemerintah. Walaupun pertumbuhan ekonomi tersebut salah arah mungkin tidak menambah signifikan lapangan kerja baru bagi rakyat atau salah arah jika pertumbuhan ekonomi disertai pertambahan kelompok miskin, yaitu adanya kemerosotan kelompok menengah menjadi rentan miskin.
Walaupun ada bias terhadap sektor swasta sebagai sektor atau klasifikasi luas, namun sektor swasta adalah vital bagi ekonomi negara. Sejak Adam Smith menulis bukunya The Wealth of Nations (1776), disebutkan peran negara harus dibatasi pada penyediaan barang publik, keamanan, dan hukum. Laissez Faire. Ekonomi akan efisien dan tumbuh lebih baik karena adanya orientasi individual dari para pelaku ekonomi. Pengusaha mendorong untuk memperoleh keuntungan tertinggi, biaya yang rendah, dan harga terbaik. Pekerja akan mendesak upah yang tinggi dan keduanya dibatasi oleh konsumen yang menginginkan barang terbaik dengan harga terjangkau.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Jumlah Dokter dan Perencanan Tenaga Kerja
Sejak satu dekade terakhir peran negara menjadi dominan dengan masuknya aparat keamanan dalam transaksi politik, oligarki atau monopoli power menjadi ancaman terhadap peran swasta yang benar. Peran swasta yang benar adalah partisipasi ekonomi yang luas yang makin mendekati pasar bersaing sempurna, yaitu masuknya lebih banyak pemain.
Pembangunan infrastruktur besar besaran dalam satu periode lalu seharusnya merupakan dekade swasta, namun hal tersebut tidak terjadi atau tidak optimal karena berputar sesama BUMN dan akses untuk mata rantainya dibatasi oleh akses relasi politik dan relasi kekuasaan. Pada industri lain perguruan tinggi swasta juga banyak colaps, sebenarnya beasiswa KIP lebih satu juta paket, dikhawatirkan adanya link ke kekuasaan negara menjadi hambatan akses yang fair. Pengusaha perumahan juga banyak mengeluh terutama penjualan sulit, tagihan bank, dan pajak.
LANGIT7.ID-Swasta sudah disalah fahami misalnya dengan mitos sembilan naga, yaitu raja bisnis yang sangat kaya dan memiliki katakanlah armada keamanan sendiri. Seolah olah bisnis sembilan naga tanpa resiko dan hanya mengeruk keuntungan berbasis sumber daya alam dan ijin pemerintah. Ijin itu sendiri diragukan oleh masyarakat tidak mengandung un saiun dengan pejabat pemerintah. Oleh karenanya menjadikan swasta besar menjadi katakanlah kebal hukum.
Mengapa swasta besar sangat dihargai dan semacam dilindungi oleh pemerintah dan penegak hukum, bagi negara keberadaannya sangat vital. Mereka adalah pembayar pajak terbesar yang menyangkut kelangsungan negara. Mereka juga sumber pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang berangka rendah membuat celah kestabilan politik pemerintah. Walaupun pertumbuhan ekonomi tersebut salah arah mungkin tidak menambah signifikan lapangan kerja baru bagi rakyat atau salah arah jika pertumbuhan ekonomi disertai pertambahan kelompok miskin, yaitu adanya kemerosotan kelompok menengah menjadi rentan miskin.
Walaupun ada bias terhadap sektor swasta sebagai sektor atau klasifikasi luas, namun sektor swasta adalah vital bagi ekonomi negara. Sejak Adam Smith menulis bukunya The Wealth of Nations (1776), disebutkan peran negara harus dibatasi pada penyediaan barang publik, keamanan, dan hukum. Laissez Faire. Ekonomi akan efisien dan tumbuh lebih baik karena adanya orientasi individual dari para pelaku ekonomi. Pengusaha mendorong untuk memperoleh keuntungan tertinggi, biaya yang rendah, dan harga terbaik. Pekerja akan mendesak upah yang tinggi dan keduanya dibatasi oleh konsumen yang menginginkan barang terbaik dengan harga terjangkau.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Jumlah Dokter dan Perencanan Tenaga Kerja
Sejak satu dekade terakhir peran negara menjadi dominan dengan masuknya aparat keamanan dalam transaksi politik, oligarki atau monopoli power menjadi ancaman terhadap peran swasta yang benar. Peran swasta yang benar adalah partisipasi ekonomi yang luas yang makin mendekati pasar bersaing sempurna, yaitu masuknya lebih banyak pemain.
Pembangunan infrastruktur besar besaran dalam satu periode lalu seharusnya merupakan dekade swasta, namun hal tersebut tidak terjadi atau tidak optimal karena berputar sesama BUMN dan akses untuk mata rantainya dibatasi oleh akses relasi politik dan relasi kekuasaan. Pada industri lain perguruan tinggi swasta juga banyak colaps, sebenarnya beasiswa KIP lebih satu juta paket, dikhawatirkan adanya link ke kekuasaan negara menjadi hambatan akses yang fair. Pengusaha perumahan juga banyak mengeluh terutama penjualan sulit, tagihan bank, dan pajak.