home masjid

Kembalinya Pemujaan Berhala dan Rapuhnya Tauhid di Era Modern

Selasa, 03 Februari 2026 - 05:45 WIB
Kiamat sedang mendekat melalui pintu-pintu pemujaan baru yang lebih halus, melalui hilangnya pembeda antara yang hak dan yang batil. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam narasi kemajuan zaman yang dianggap kian rasional, sebuah anomali spiritual justru merangkak naik ke permukaan. Di balik kecanggihan teknologi dan logika materialisme, praktik-praktik yang menyerupai pemujaan masa silam kembali bermunculan dalam berbagai rupa. Fenomena ini bukan sekadar masalah folklor atau warisan budaya, melainkan sebuah pergeseran fundamental dalam teologi publik. Dalam kacamata eskatologi Islam, kembalinya umat pada praktik kemusyrikan adalah salah satu alarm paling krusial tentang dekatnya akhir sejarah.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubramenyebut, fenomena ini diulas sebagai bentuk keretakan iman yang sistemik. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini menegaskan bahwa kemurnian tauhid akan mengalami ujian berat di penghujung zaman, di mana sebagian umat justru akan kembali pada tradisi yang telah lama ditinggalkan.

Pijakan nubuat ini bersumber dari riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi dari Tsauban radhiyallahu anhu, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا وُضِعَ السَّيْفُ فِى أُمَّتِى لَمْ يُرْفَعْ عَنْهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تَعْبُدَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى الأَوْثَانَ

Artinya: Jika pada umatku pedang telah diletakkan, maka ia tidak akan pernah diangkat darinya sampai hari kiamat, dan tidak akan terjadi hari kiamat hingga beberapa kabilah dari umatku mengikuti kaum musyrikin, dan beberapa kabilah dari umatku menyembah berhala.

Sinkretisme dan Pemujaan Baru

Interpretasi ‘Awadh bin ‘Ali ini membawa kita pada refleksi tentang bagaimana berhala tidak selalu berbentuk patung batu. Dalam konteks modern, berhala bisa mewujud dalam bentuk pemujaan terhadap figur, ideologi, atau bahkan benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan adikodrati. Istilah mengikuti kaum musyrikin merujuk pada pengadopsian gaya hidup, tata nilai, hingga ritual yang mengaburkan batas antara iman dan kekufuran.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya