Benang Merah Puasa dari Nuh hingga Muhammad
Miftah yusufpati
Kamis, 05 Februari 2026 - 05:45 WIB
Menelusuri puasa umat terdahulu adalah upaya melihat jembatan panjang sejarah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Ketika kewajiban puasa turun ke bumi Madinah, ia tidak datang sebagai sebuah beban baru yang asing. Melalui baris kalimat dalam Surah Al Baqarah ayat 183, Allah memberitahukan sebuah silsilah ibadah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
Perintah itu secara eksplisit menyebutkan bahwa puasa telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kaum muslimin.
Namun, siapa umat-umat terdahulu yang dimaksud? Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam karyanya Meraih Puasa Sempurna memberikan penegasan interpretatif. Umat yang dimaksud adalah para pengikut tradisi tauhid, mereka yang berbaris di belakang Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa.
Puasa ini menjadi pembeda tajam dengan kaum penyembah berhala yang menganggap patung sebagai ilah. Inilah bukti bahwa meski syariat lahir dalam rupa yang berbeda, akar dasarnya tetap satu: Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 3:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Meskipun prinsip dasarnya serupa, sejarah tidak meninggalkan jejak teknis yang terperinci mengenai cara dan durasi puasa umat-umat awal tersebut. Kita tidak memiliki catatan seismik tentang bagaimana kaum Nuh atau Ibrahim mengatur waktu imsak mereka. Namun, melalui pintu as-sunnah, kita mendapatkan fragmen-fragmen berharga mengenai puasa para nabi terdahulu yang kemudian diserap dalam tradisi Islam.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
Perintah itu secara eksplisit menyebutkan bahwa puasa telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kaum muslimin.
Namun, siapa umat-umat terdahulu yang dimaksud? Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam karyanya Meraih Puasa Sempurna memberikan penegasan interpretatif. Umat yang dimaksud adalah para pengikut tradisi tauhid, mereka yang berbaris di belakang Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa.
Puasa ini menjadi pembeda tajam dengan kaum penyembah berhala yang menganggap patung sebagai ilah. Inilah bukti bahwa meski syariat lahir dalam rupa yang berbeda, akar dasarnya tetap satu: Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 3:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Meskipun prinsip dasarnya serupa, sejarah tidak meninggalkan jejak teknis yang terperinci mengenai cara dan durasi puasa umat-umat awal tersebut. Kita tidak memiliki catatan seismik tentang bagaimana kaum Nuh atau Ibrahim mengatur waktu imsak mereka. Namun, melalui pintu as-sunnah, kita mendapatkan fragmen-fragmen berharga mengenai puasa para nabi terdahulu yang kemudian diserap dalam tradisi Islam.