LANGIT7.ID-Ketika kewajiban puasa turun ke bumi Madinah, ia tidak datang sebagai sebuah beban baru yang asing. Melalui baris kalimat dalam Surah Al Baqarah ayat 183, Allah memberitahukan sebuah silsilah ibadah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ Perintah itu secara eksplisit menyebutkan bahwa puasa telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kaum muslimin.
Namun, siapa umat-umat terdahulu yang dimaksud? Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam karyanya Meraih Puasa Sempurna memberikan penegasan interpretatif. Umat yang dimaksud adalah para pengikut tradisi tauhid, mereka yang berbaris di belakang Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa.
Puasa ini menjadi pembeda tajam dengan kaum penyembah berhala yang menganggap patung sebagai ilah. Inilah bukti bahwa meski syariat lahir dalam rupa yang berbeda, akar dasarnya tetap satu: Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Ali Imran ayat 3:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُMeskipun prinsip dasarnya serupa, sejarah tidak meninggalkan jejak teknis yang terperinci mengenai cara dan durasi puasa umat-umat awal tersebut. Kita tidak memiliki catatan seismik tentang bagaimana kaum Nuh atau Ibrahim mengatur waktu imsak mereka. Namun, melalui pintu as-sunnah, kita mendapatkan fragmen-fragmen berharga mengenai puasa para nabi terdahulu yang kemudian diserap dalam tradisi Islam.
Salah satu yang paling monumental adalah puasa Dawud Alaihissallam. Tradisi ini terungkap melalui dialog antara Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dengan Abdullah bin Amr yang terekam dalam Shahih al-Bukhari.
Ketika Abdullah bersikeras ingin berpuasa terus-menerus sepanjang hidupnya, sang Nabi mengerem ambisi tersebut dan menunjuk pada sebuah standar emas:
فَصُمْ يَوْماً وَأَفْطِرْ يَوْماً فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ، وَهُوَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Inilah puasa yang dianggap paling baik dan paling berat karena melibatkan konsistensi fisik dan mental yang luar biasa.
Fragmen lain muncul saat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah dan mendapati kaum Yahudi tengah merayakan hari Asyura dengan berpuasa.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa kaum Yahudi melakukan itu sebagai bentuk syukur atas penyelamatan Bani Israil dari kejaran Firaun di bawah komando Musa Alaihissallam. Merespons hal itu, Nabi memberikan pernyataan politik sekaligus religius:
فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ Beliau merasa lebih berhak atas warisan Musa daripada mereka, sehingga beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk mengikuti jejak tersebut.
Bahkan, jejak puasa ini pun sempat hidup dalam tradisi lokal sebelum Islam sempurna. Aisyah Radhiyallahu anha mencatat bahwa kaum Quraisy pada masa Jahiliyyah terbiasa menjalankan puasa Asyura. Nabi sendiri menjalankannya hingga kewajiban puasa Ramadhan turun dan mengubah kedudukan puasa Asyura menjadi pilihan sukarela.
Menelusuri puasa umat terdahulu adalah upaya melihat jembatan panjang sejarah. Puasa bukan sekadar urusan perut kosong yang dimulai sejak era kenabian di Mekkah, melainkan sebuah metode pembersihan jiwa purba yang telah dipraktikkan oleh para pemuja Tuhan sejak fajar peradaban manusia dimulai.
(mif)