Tangis Kita untuk YBR, Anak SD di Bajawa, NTT Yang Bunuh Diri
Tim langit 7
Jum'at, 06 Februari 2026 - 20:24 WIB
Tangis Kita untuk YBR, Anak SD di Bajawa, NTT Yang Bunuh Diri
Oleh: Umar Jahidin
LANGIT7.ID-Hiruk pikuk ibu kota Jakarta dengan segala kemewahannya—juga ibu kota Nusantara yang konon akan menjadi kota teladan global masa depan—menyisakan banyak kisah pedih di sebagian wilayah republik yang kita cintai.
Saudara-saudara kita di ujung jauh sana tak pernah memikirkan cicilan rumah sederhana, karena mereka merasa cukup dengan rumah beralas tanah, berdinding bambu, beratap alang-alang atau rumbia.
Mereka tak membayangkan mencicil motor, apalagi mobil, karena berjalan kaki ke sekolah—bahkan tanpa alas kaki—sudah menjadi keseharian.
Mereka tak pernah memutar keran untuk mandi; itu kemewahan. Mereka biasa mandi di kali atau genangan air sisa sawah tetangga yang kebetulan masih tersisa sebelum mengairi padi.
Bahkan mereka belum mengenal mesin bor air; kalau pun tahu, tak punya uang untuk membayar sewanya. Gagasan membuat sumur pun belum terbayangkan.
Padahal semua itu adalah kebutuhan dasar bagi rakyat kebanyakan—untuk konteks negeri seribu pulau ini. Seolah mereka belum atau tidak termasuk di dalamnya. Seolah mereka adalah kelompok termiskin paling bawah yang, secara struktural, tak tersentuh kebijakan sama sekali
LANGIT7.ID-Hiruk pikuk ibu kota Jakarta dengan segala kemewahannya—juga ibu kota Nusantara yang konon akan menjadi kota teladan global masa depan—menyisakan banyak kisah pedih di sebagian wilayah republik yang kita cintai.
Saudara-saudara kita di ujung jauh sana tak pernah memikirkan cicilan rumah sederhana, karena mereka merasa cukup dengan rumah beralas tanah, berdinding bambu, beratap alang-alang atau rumbia.
Mereka tak membayangkan mencicil motor, apalagi mobil, karena berjalan kaki ke sekolah—bahkan tanpa alas kaki—sudah menjadi keseharian.
Mereka tak pernah memutar keran untuk mandi; itu kemewahan. Mereka biasa mandi di kali atau genangan air sisa sawah tetangga yang kebetulan masih tersisa sebelum mengairi padi.
Bahkan mereka belum mengenal mesin bor air; kalau pun tahu, tak punya uang untuk membayar sewanya. Gagasan membuat sumur pun belum terbayangkan.
Padahal semua itu adalah kebutuhan dasar bagi rakyat kebanyakan—untuk konteks negeri seribu pulau ini. Seolah mereka belum atau tidak termasuk di dalamnya. Seolah mereka adalah kelompok termiskin paling bawah yang, secara struktural, tak tersentuh kebijakan sama sekali