home masjid

Paradigma Kasih Sayang: Rasionalitas di Balik Keringanan Ibadah Puasa bagi Umat Islam

Senin, 16 Februari 2026 - 04:15 WIB
Di balik tiap perintah, ada empati besar yang menjaga agar manusia tetap mampu berdiri tegak menjalankan pengabdiannya tanpa harus hancur oleh beban yang melampaui batas. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dunia hukum sering kali tampak sebagai sebuah mesin dingin yang bekerja berdasarkan aturan kaku tanpa perasaan. Namun, dalam cakrawala syariat Islam, terdapat sebuah variabel yang sangat menentukan arah kebijakan hukum: rasa khawatir sang pembawa risalah akan keselamatan umatnya. Dalam diskursus puasa, variabel ini bukan sekadar pemanis retorika, melainkan instrumen hukum yang sangat krusial.

Persoalan empati nubuwah ini dibedah secara mendalam dalam buku Meraih Puasa Sempurna, sebuah karya ilmiah yang diterjemahkan dari naskah Ash Shiyaam, Ahkaam wa Aa daab karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath Thayyar. Dalam naskah yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir tersebut, Dr. Ath Thayyar memaparkan bahwa watak dasar ajaran Islam adalah tidak ingin menyusahkan pelakunya. Syariat ini tidak berdiri di atas pondasi penderitaan, melainkan di atas hamparan kemudahan.

Salah satu bukti paling otentik mengenai kekhawatiran Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk tidak memberatkan umatnya terekam dalam sebuah hadits populer yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ

Kalau bukan aku takut memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak (setiap akan shalat).

Hadits ini, menurut interpretasi Dr. Ath Thayyar, adalah prototipe dari cara pandang Islam terhadap sebuah kewajiban. Meskipun siwak adalah perbuatan yang sangat dicintai oleh Nabi dan memiliki manfaat besar, beliau memilih untuk tidak menjadikannya sebuah perintah wajib karena mempertimbangkan aspek psikologis dan beban teknis bagi orang banyak. Logika yang sama kemudian menjalar ke dalam hukum puasa.

Dalam konteks Ramadhan, manifestasi dari rasa takut memberatkan umat ini muncul dalam bentuk rukhshah atau keringanan. Islam mengakui bahwa dalam perjalanan hidup manusia, terdapat kondisi kondisi ekstrem yang membuat ibadah menahan lapar menjadi beban yang sangat berat (masyaqqah). Untuk itulah, pintu dispensasi dibuka bagi musafir, orang sakit, hingga lansia.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya