Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 Juli 2026
home masjid detail berita

Paradigma Kasih Sayang: Rasionalitas di Balik Keringanan Ibadah Puasa bagi Umat Islam

miftah yusufpati Senin, 16 Februari 2026 - 04:15 WIB
Paradigma Kasih Sayang: Rasionalitas di Balik Keringanan Ibadah Puasa bagi Umat Islam
Di balik tiap perintah, ada empati besar yang menjaga agar manusia tetap mampu berdiri tegak menjalankan pengabdiannya tanpa harus hancur oleh beban yang melampaui batas. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dunia hukum sering kali tampak sebagai sebuah mesin dingin yang bekerja berdasarkan aturan kaku tanpa perasaan. Namun, dalam cakrawala syariat Islam, terdapat sebuah variabel yang sangat menentukan arah kebijakan hukum: rasa khawatir sang pembawa risalah akan keselamatan umatnya. Dalam diskursus puasa, variabel ini bukan sekadar pemanis retorika, melainkan instrumen hukum yang sangat krusial.

Persoalan empati nubuwah ini dibedah secara mendalam dalam buku Meraih Puasa Sempurna, sebuah karya ilmiah yang diterjemahkan dari naskah Ash Shiyaam, Ahkaam wa Aa daab karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath Thayyar. Dalam naskah yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir tersebut, Dr. Ath Thayyar memaparkan bahwa watak dasar ajaran Islam adalah tidak ingin menyusahkan pelakunya. Syariat ini tidak berdiri di atas pondasi penderitaan, melainkan di atas hamparan kemudahan.

Salah satu bukti paling otentik mengenai kekhawatiran Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk tidak memberatkan umatnya terekam dalam sebuah hadits populer yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ

Kalau bukan aku takut memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak (setiap akan shalat).

Hadits ini, menurut interpretasi Dr. Ath Thayyar, adalah prototipe dari cara pandang Islam terhadap sebuah kewajiban. Meskipun siwak adalah perbuatan yang sangat dicintai oleh Nabi dan memiliki manfaat besar, beliau memilih untuk tidak menjadikannya sebuah perintah wajib karena mempertimbangkan aspek psikologis dan beban teknis bagi orang banyak. Logika yang sama kemudian menjalar ke dalam hukum puasa.

Dalam konteks Ramadhan, manifestasi dari rasa takut memberatkan umat ini muncul dalam bentuk rukhshah atau keringanan. Islam mengakui bahwa dalam perjalanan hidup manusia, terdapat kondisi kondisi ekstrem yang membuat ibadah menahan lapar menjadi beban yang sangat berat (masyaqqah). Untuk itulah, pintu dispensasi dibuka bagi musafir, orang sakit, hingga lansia.

Karya ulama dunia lainnya, seperti Shahih Bukhari dalam bab Kitab ash Shaum, mencatat banyak peristiwa di mana Nabi Muhammad justru menganjurkan para sahabatnya untuk mengambil keringanan saat kondisi fisik mereka terancam.

Imam Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa syariat Islam selalu mencari jalan tengah antara disiplin spiritual dan keselamatan raga. Menurut Ibnu Hajar, memaksakan ibadah hingga merusak kesehatan adalah bentuk pengabaian terhadap nikmat kemudahan yang diberikan Tuhan.

Secara interpretatif, fenomena ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai kedaulatan biologis manusia. Tuhan yang mewajibkan puasa adalah Tuhan yang sama yang memberikan izin untuk berbuka jika nyawa atau kesehatan menjadi taruhannya. Ini adalah bentuk perlindungan syariat terhadap hifz an nafs atau penjagaan atas jiwa. Dr. Ath Thayyar dalam ulasannya menekankan bahwa syariat Islam mengungguli hukum buatan manusia karena ia tidak pernah melepaskan aspek kemanusiaan dari tiap butir aturannya.

Pesan ini sangat relevan bagi masyarakat yang sering kali terjebak dalam ekstrimitas beragama. Ada kalanya seseorang merasa lebih takwa jika ia menyiksa diri dalam ibadah, padahal Rasulullah sendiri justru merasa berat jika umatnya harus menderita. Keberagamaan yang sejati, sebagaimana yang dipotret oleh Dr. Ath Thayyar, adalah ketaatan yang dijalankan dengan kesadaran akan batas kemampuan diri, seraya meyakini bahwa Tuhan tidak menghendaki kesukaran.

Kajian dalam buku Meraih Puasa Sempurna ini mengingatkan kita semua bahwa Islam adalah agama yang bernafas dalam kasih sayang. Setiap keringanan yang ada dalam aturan puasa adalah bukti bahwa suara hati manusia dan kondisi fisiknya didengarkan oleh langit.

Di tengah hiruk pikuk kehidupan Jakarta pada Februari 2026, prinsip kemudahan ini menjadi pengingat yang meneduhkan; bahwa di balik tiap perintah, ada empati besar yang menjaga agar manusia tetap mampu berdiri tegak menjalankan pengabdiannya tanpa harus hancur oleh beban yang melampaui batas.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan