Kolom Ekonomi Syariah: Membentuk Ekonomi Egaliter: Belum Dibagi Sudah Merata
Tim langit 7
Senin, 16 Februari 2026 - 05:00 WIB
Kolom Ekonomi Syariah: Membentuk Ekonomi Egaliter: Belum Dibagi Sudah Merata
Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Pertumbuhan ekonomi makro sekitar 5 persen bahkan 6 persen dalam dua dekade merupakan pertumbuhan yang hebat dan stabil. Tetapi kenapa ekonomi mikro mengalami kesulitan?
Banyak pengusaha merasa sulit misalnya di sektor industri rakyat dan industri pengolahan, sektor real estate atau kontruksi, sektor jasa banyak sekolah dan universitas mati, industri makanan collapse. Paradok ekonomi makro yang keberhasilannya diukur dari pertumbuhan ekonomi versus ekonomi mikro pada level perusahaan dan industri. Lulusan pendidikan tinggi dan lulusan sekolah menengah kesulitan mencari kerja. Terutama pekerjaan yang dianggap memberi penghasilan yang cukup sepadan dengan pendidikan.
Orientasi kepada ekonomi makro diukur dari sukses pertumbuhan berbasis statistik angka rata rata dan global, dan dua mesin utamanya pemasukan dan pengeluaran pemerintah serta sukses di sektor keuangan pengendalian inflasi dan suku bunga. Pertumbuhan yang cukup tinggi ternyata tidak merata antar industri dan imbasnya antar unit usaha.
Dari logika statistik suatu pertumbuhan berbasis rata rata, bila si kecil mengalami kesulitan tentu si besar menikmati kemakmuran. Sektor sektor yang terkait dengan eksploitasi sumber alam menikmati kemakmuran, juga sektor yang menikmati belanja pemerintah. MBG misalnya tentu melahirkan orang kaya baru atau orang kaya lama yang makin kaya. Sayang MBG cenderung kembali ke relasi pemerintah bahkan unsur pemerintah itu sendiri, misalnya POLRI. Kantong kiri dan kantong kanan efek perputaran kepada ekonomi rakyat berkurang.
Baca juga:Kolom Ekonomi Syariah: Kesejahteraan Pekerja Kita
LANGIT7.ID-Pertumbuhan ekonomi makro sekitar 5 persen bahkan 6 persen dalam dua dekade merupakan pertumbuhan yang hebat dan stabil. Tetapi kenapa ekonomi mikro mengalami kesulitan?
Banyak pengusaha merasa sulit misalnya di sektor industri rakyat dan industri pengolahan, sektor real estate atau kontruksi, sektor jasa banyak sekolah dan universitas mati, industri makanan collapse. Paradok ekonomi makro yang keberhasilannya diukur dari pertumbuhan ekonomi versus ekonomi mikro pada level perusahaan dan industri. Lulusan pendidikan tinggi dan lulusan sekolah menengah kesulitan mencari kerja. Terutama pekerjaan yang dianggap memberi penghasilan yang cukup sepadan dengan pendidikan.
Orientasi kepada ekonomi makro diukur dari sukses pertumbuhan berbasis statistik angka rata rata dan global, dan dua mesin utamanya pemasukan dan pengeluaran pemerintah serta sukses di sektor keuangan pengendalian inflasi dan suku bunga. Pertumbuhan yang cukup tinggi ternyata tidak merata antar industri dan imbasnya antar unit usaha.
Dari logika statistik suatu pertumbuhan berbasis rata rata, bila si kecil mengalami kesulitan tentu si besar menikmati kemakmuran. Sektor sektor yang terkait dengan eksploitasi sumber alam menikmati kemakmuran, juga sektor yang menikmati belanja pemerintah. MBG misalnya tentu melahirkan orang kaya baru atau orang kaya lama yang makin kaya. Sayang MBG cenderung kembali ke relasi pemerintah bahkan unsur pemerintah itu sendiri, misalnya POLRI. Kantong kiri dan kantong kanan efek perputaran kepada ekonomi rakyat berkurang.
Baca juga:Kolom Ekonomi Syariah: Kesejahteraan Pekerja Kita