Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Pertumbuhan ekonomi makro sekitar 5 persen bahkan 6 persen dalam dua dekade merupakan pertumbuhan yang hebat dan stabil. Tetapi kenapa ekonomi mikro mengalami kesulitan?
Banyak pengusaha merasa sulit misalnya di sektor industri rakyat dan industri pengolahan, sektor real estate atau kontruksi, sektor jasa banyak sekolah dan universitas mati, industri makanan collapse. Paradok ekonomi makro yang keberhasilannya diukur dari pertumbuhan ekonomi versus ekonomi mikro pada level perusahaan dan industri. Lulusan pendidikan tinggi dan lulusan sekolah menengah kesulitan mencari kerja. Terutama pekerjaan yang dianggap memberi penghasilan yang cukup sepadan dengan pendidikan.
Orientasi kepada ekonomi makro diukur dari sukses pertumbuhan berbasis statistik angka rata rata dan global, dan dua mesin utamanya pemasukan dan pengeluaran pemerintah serta sukses di sektor keuangan pengendalian inflasi dan suku bunga. Pertumbuhan yang cukup tinggi ternyata tidak merata antar industri dan imbasnya antar unit usaha.
Dari logika statistik suatu pertumbuhan berbasis rata rata, bila si kecil mengalami kesulitan tentu si besar menikmati kemakmuran. Sektor sektor yang terkait dengan eksploitasi sumber alam menikmati kemakmuran, juga sektor yang menikmati belanja pemerintah. MBG misalnya tentu melahirkan orang kaya baru atau orang kaya lama yang makin kaya. Sayang MBG cenderung kembali ke relasi pemerintah bahkan unsur pemerintah itu sendiri, misalnya POLRI. Kantong kiri dan kantong kanan efek perputaran kepada ekonomi rakyat berkurang.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kesejahteraan Pekerja KitaIndustri Madya dan Teknologi MadyaEkonomi yang kuat adalah ekonomi yang merata memiliki banyak pemain menengah. Ekonomi seperti itu adalah ekonomi yang tumbuh dan sekaligus merata yang sesungguhnya. Sebaliknya struktur ekonomi besar dikerubungi ekonomi rakyat yang lemah menandakan hubungan eksploitatif.
Dalam ekonomi berbasis ekonomi dan teknologi madya bayangkan misalnya pasokan konsumsi mie yang konsentrasinya sangat tinggi berbasis satu atau dua perusahaan besar dan jaringan distribusi, teknologi produksi harus bertahan lama dengan tentu saja bahan pengawet dan sistem pengeringan. Bandingkan dengan jika pada setiap kabupaten bahkan kecamatan terlahir ribuan pengusaha mi basah. Lebih sehat tidak memerlukan bahan kimia dengan produksi dan distribusi harian. Pada sistem yang kedua ini akan melahirkan ribuan pengusaha menengah yang membuat ekonomi tangguh, menggembirakan, mencerahkan.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kejatuhan Pasar Saham Dalam AgamaBaca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Bela dan beli swastaTuntutan keadilan menjadi berkurang karena sebelum dibagi sudah merata, artinya dalam proses produksi saja sudah merata dipikul rame rame di berbagai kota. Munculnya pengusaha pengusaha daerah. Contoh dari industri mie bisa dikembangakan ke berbagai sektor. Jika misalnya batas hotel bertingkat hanya lima lantai maka akan terjadi penambahan banyak pemain. Jika suatu kampus atau fakultas kedokteran diberi batas atas maka akan berdiri banyak kampus yang bagus. Demikian juga misalnya dalam industri pertambangan dan kehutanan dibatasi X hektar maka akan terjadi pertambahan pemain.
Peraturan terhadap penguasaan pasar atau apa yang disebut tingkat konsentrasi merupakan kunci pembentukan kelompok menengah yang kuat dan berjumlah banyak dan ekonomi yang merata. (Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)