Pengamat: Sejarah Pertempuran 5 Hari di Semarang Perlu Direview Ulang
Arif purniawan
Rabu, 13 Oktober 2021 - 11:04 WIB
Tugu Muda menjadi ikon Kota Semarang yang menjadi saksi pertempuran 5 hari di Semarang. (foto: iStock)
Pemerhati sejarah Kota Semarang ,Yunantyo Adi menilai perlunya untuk mereview kembali sejarah dalam peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang, yang terjadi pada 15 Oktober -19 Oktober 1945 silam, karena dinilai masih banyak fakta yang belum terungkap hingga saat ini.
Dalam buku sejarah resmi dari negara tentang perlawanan heroik dari pemuda-pemuda Kota Semarang dengan tentara Jepang itu hanya menghadirkan tokoh sentral dr Kariadi. Dr Kariadi ditembak setelah mobilnya dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran, saat akan mengecek reservoir Siranda yang kabarnya diracun oleh Jepang.
“Pertempuran 5 hari dilakukan secara gotong royong, bersama-sama, semua orang bahu-membahu. Tapi dalam sejarah yang tampil dr Kariadi. Kalau mau fair, sejarah harus direview kembali,” ujar Yunantyo Adi, Selasa (12/11).
“Pertempuran 5 hari itu sangat besar, karena juga dibantu dari Ambarawa dan Temanggung dan menyebabkan ribuan orang gugur,” katanya lagi.
Baca juga:Kenjuran Bike Park, Sport Tourism Kendal di Kaki Gunung Perahu
Yunantyo mengatakan, pondok pesantren karena punya peran, seharusnya bisa menulis perannya seperti apa saat pertempuran berlangsung, dan disodorkan ke masyarakat, atau di kampus-kampus. Siapa yang menjaga pos palang merah?. Misal ada dari ormas Islam, ormas yang mana, itu sampai sekarang belum terungkap.
Fakta sejarah bisa digali dari penutuaran laskar-laskar, organisasi atau kelompok yang terlibat dalam pertempuran tersebut, atau juga bisa bersumber dari orang tua-orang tua yang menjadi saksi sejarah peristiwa tersebut.
Dalam buku sejarah resmi dari negara tentang perlawanan heroik dari pemuda-pemuda Kota Semarang dengan tentara Jepang itu hanya menghadirkan tokoh sentral dr Kariadi. Dr Kariadi ditembak setelah mobilnya dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran, saat akan mengecek reservoir Siranda yang kabarnya diracun oleh Jepang.
“Pertempuran 5 hari dilakukan secara gotong royong, bersama-sama, semua orang bahu-membahu. Tapi dalam sejarah yang tampil dr Kariadi. Kalau mau fair, sejarah harus direview kembali,” ujar Yunantyo Adi, Selasa (12/11).
“Pertempuran 5 hari itu sangat besar, karena juga dibantu dari Ambarawa dan Temanggung dan menyebabkan ribuan orang gugur,” katanya lagi.
Baca juga:Kenjuran Bike Park, Sport Tourism Kendal di Kaki Gunung Perahu
Yunantyo mengatakan, pondok pesantren karena punya peran, seharusnya bisa menulis perannya seperti apa saat pertempuran berlangsung, dan disodorkan ke masyarakat, atau di kampus-kampus. Siapa yang menjaga pos palang merah?. Misal ada dari ormas Islam, ormas yang mana, itu sampai sekarang belum terungkap.
Fakta sejarah bisa digali dari penutuaran laskar-laskar, organisasi atau kelompok yang terlibat dalam pertempuran tersebut, atau juga bisa bersumber dari orang tua-orang tua yang menjadi saksi sejarah peristiwa tersebut.