LANGIT7.ID, Semarang - Pemerhati sejarah Kota Semarang ,Yunantyo Adi menilai perlunya untuk mereview kembali sejarah dalam peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang, yang terjadi pada 15 Oktober -19 Oktober 1945 silam, karena dinilai masih banyak fakta yang belum terungkap hingga saat ini.
Dalam buku sejarah resmi dari negara tentang perlawanan heroik dari pemuda-pemuda Kota Semarang dengan tentara Jepang itu hanya menghadirkan tokoh sentral dr Kariadi. Dr Kariadi ditembak setelah mobilnya dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran, saat akan mengecek reservoir Siranda yang kabarnya diracun oleh Jepang.
“Pertempuran 5 hari dilakukan secara gotong royong, bersama-sama, semua orang bahu-membahu. Tapi dalam sejarah yang tampil dr Kariadi. Kalau mau fair, sejarah harus direview kembali,” ujar Yunantyo Adi, Selasa (12/11).
“Pertempuran 5 hari itu sangat besar, karena juga dibantu dari Ambarawa dan Temanggung dan menyebabkan ribuan orang gugur,” katanya lagi.
Baca juga:
Kenjuran Bike Park, Sport Tourism Kendal di Kaki Gunung PerahuYunantyo mengatakan, pondok pesantren karena punya peran, seharusnya bisa menulis perannya seperti apa saat pertempuran berlangsung, dan disodorkan ke masyarakat, atau di kampus-kampus. Siapa yang menjaga pos palang merah?. Misal ada dari ormas Islam, ormas yang mana, itu sampai sekarang belum terungkap.
Fakta sejarah bisa digali dari penutuaran laskar-laskar, organisasi atau kelompok yang terlibat dalam pertempuran tersebut, atau juga bisa bersumber dari orang tua-orang tua yang menjadi saksi sejarah peristiwa tersebut.
“Masyarakat juga memiliki peran untuk memberi informasi sekecil apapun tentang elemen yang terlibat dalam pertemuran tersebut. Di Semarang kan juga banyak pondok pesantren tua,” ujarnya.
Menurut dia, pembuktian berdasarkan dengan bahasa tutur ini memang kurang ilmiah. Akan tetapi, hal ini bisa diterima oleh keilmuan akademik maupun non akademik.
“Kan di Semarang juga ada kampus yang memiliki fakultas ilmu sejarah, maupun budaya. Mereka bisa mengambil peran untuk melakukan penelitian terhadap sejarah pertempuran 5 hari. Ini penting, sehingga perlu disampaikan,” tuturnya.
Berdasar penuturan dari para orang tua, mereka yang berangkat ke pertempuran tersebut ada yang sudah dibekali ilmu kebal dari para kiai. Saat itu ada kiai yang memiliki kemampuan seperti itu, tubuh tidak akan mempan dari sabetan senjata tajam. Namun hal ini perlu ada pembuktian lagi dengan penuturan dari mereka yang terlibat langsung.
Baca juga:
Berkat Doa Kiai, Santri yang Dahulu Nakal Kini Bisa Jadi KiaiPengungkapan fakta-fakta kelompok mana yang terlibat dan perannya dalam pertempuran tersebut secara keseluruhan bisa menjadi sejarah lokal, tentang sebuah kearifan lokal, akan perjuangan beberapa elemen masyarakat melawan penjajah.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap para pahlawan yang telah gugur dalam pertempuran sengit tersebut, di pertemuan antara Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, Jalan MGR Soegijopranoto dibangun Tugu Muda pada 10 November 1951.
Tugu muda ini menggambarkan tentang semangat berjuang dan patriotisme warga Semarang khususnya, para pemuda yang gigih, rela berkorban dengan semangat yang tinggi mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.
(sof)