LANGIT7.ID - Masyarakat Indonesia tak asing lagi dengan istilah santri. Selain jumlah pesantren yang mencapai puluhan ribu di Tanah Air, santri juga memiliki peran sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dewasa ini, banyak orang tua menjadikan pesantren sebagai alternatif utama di bidang pendidikan. Ada pula orang tua yang menyekolahkan anaknya di pesantren lantaran tak bisa dikontrol jika berada di lingkungan bebas.
Santri-santri ‘nakal’ biasanya mendapat perhatian khusus dari para kiai. Para kiai itu tentu memiliki segudang pengalaman mendidik santri yang terkenal nakal. Salah satunya Kiai Haji Ahmad Umar Abdul Manan, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Solo, Jawa Tengah.
Baca Juga: Cerita Walikota Depok Dibotak Saat Nyantri di Gontor
Mengutip laman pecihitam.org, suatu ketika para pembina di pesantren Al-Muayyad merasa kesulitan mendidik para santri nakal. Mereka kerap berbuat ulah, susah diatur, hingga mengundang kemarahan dari para pembina.
Para pembina itu pun mengadukan hal itu pada Kiai Umar. Mendengar aduan itu, Kiai Umar meminta tolong agar nama santri-santri nakal dicatat dan diberi ranking berdasarkan tingkat kenakalan mereka.
Mendengar perintah itu, para pengurus pondok merasa sangat senang sekali. Tanpa perlu mengingat-ingat, mereka langsung mencatat semua santri nakal dalam kertas. Mereka berfikir Kiai Umar akan mengeluarkan santri-santri nakal itu.
Namun, setelah tiga pekan berlalu, para santri yang masuk daftar catatan Kiai Umar masih bebas berkeliaran di pesantren. Mereka bahkan tidak dipanggil untuk menghadap ke Kiai Umar untuk mendapat hukuman.
Baca Juga: Mengapa Santri Haram Membawa HP ke Pesantren? Ini Penjelasannya
Para pengurus itu merasa sangat penasaran. Mereka lalu memberanikan diri untuk menanyakan langsung ke Kiai Umar. Mereka menanyakan alasan para santri itu belum dikeluarkan dari pondok.
Mendengar pertanyaan itu, Kiai Umar hanya tersenyum. Dia lalu menjelaskan secara bijak. Kiai Umar menyebut para santri itu memang dikirim ke pondok karena nakal. Maka itu, Kiai Umar secara khusus mendoakan nama-nama yang tertera dalam kertas sebagai prioritas utama dalam shalat tahajud.
Kiai Umar juga sering memanggil santri nakal itu ke kediamannya dan dijamu dengan makanan enak. Di sana para santri itu diajak bicara baik-baik. Kiai Umar ingin santri merasa bersalah dan ingin memperbaiki diri. Kesadaran dari dalam diri tentu lebih baik daripada dipaksakan.
Setelah sekian tahun berlalu, kisah santri nakal itu diceritakan kembali oleh KH Ahmad Mustofa Bisri dalam ceramahnya di Pesantren Azzahro, Kendal. Para jamaah yang hadir sempat tertawa mendengar kisah tersebut.
Namun saat itu ada satu orang yang tidak tertawa, tapi justru tertunduk diam. Saat turun dari mimbar, pria yang ternyata seorang kiai itu langsung merangkul Gus Mus.
Pria itu lalu berbisik, dulu ia adalah santri yang berada di urutan pertama paling nakal. Namun kini, dia telah menjadi kiai muda yang disegani dengan ribuan santri.
Baca Juga: Siapakah Orang yang Bisa Dipanggil Kiai? Berikut Penjelasan KH Sahal Mahfudz(jqf)