LANGIT7.ID, Magelang - Semasa menjabat sebagai Presiden ke-4 RI,
KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pernah membuat heboh kalangan kiai. Para Kiai sepuh itu geger lantaran keputusan Gus Dur mencabut Tap MPR soal PKI.
Dalam Tap MPR yang diterbitkan di era Presiden Soeharto itu menyatakan bahwa anak turun PKI tidak boleh jadi pegawai. Keturunan PKI tidak boleh jadi TNI dan tidak boleh jadi Polri. Perlu ada penyelidikan khusus mengenai keturunan dan nasabnya, untuk memastikan bukan berasal dari PKI.
Pengasuh Ponpes API Tegalrejo Magelang, KH M Yusuf Chudlori mengatakan, para Kiai geger karena Gus Dur akan menghidupkan PKI lagi. Tap MPR yang dibuat Soeharto, justru dicabut di era Gus Dur yang dikenal dengan dengan ulama dan Kiai.
Baca juga: 5 Teladan Gus Dur yang Habiskan Umur untuk KemanusiaanKebetulan saat sedang ramai soal itu,
Gus Dur menghadiri acara khataman di Ponpes API Tegalrejo Magelang.
“Akhirnya sejumlah Kiai minta waktu, tabayun. Sebelum naik ke podium, ada yang meminta Gus Dur itu ke rumahnya Mas Dur (pengasuh Ponpes API),” kata Gus Yusuf.
Para Kiai yang bertanya itu juga merupakan santri dari alm KH Chudlori. Kemudian mereka ada yang tanya. “Gimana Gus soal Tap MPR. Kok
jenengan cabut tap MPR,” kata salah satu Kiai tersebut, ditirukan Gus Yusuf.
Dengan enteng, Gus Dur menjawab. “Katanya
jenengan itu santrinya KH Chudlori,
wong saya itu cabut (Tap MPR)
dawuhe Mbah Chudlori,” jawab Gus Dur.
Dus Dur kemudian menjelaskan dalilnya. Dia masih ingat ketika jadi santri Tegalrejo, waktu rame-rame geger PKI. Kiai Chudlori
dawuh (memberi perintah), waktu ngaji. Kurang lebih seperti ini:
Baca juga: Mengenang Sosok Gus Dur, Presiden RI ke-4 dengan Jabatan Singkat“Yang namanya api, itu tidak bisa dilawan dengan api. Api itu bisa kalah, di lawan dengan air,” kata
Gus Dur, ditirukan Gus Yusuf.
Artinya, yang namanya dendam, kekerasan,
paten-patenan (bunuh membunuh), tidak menyelesaikan masalah. Hari ini kamu bisa menangkap PKI dan membunuhnya, besok di lain hari, giliran anak-anak PKI tadi yang mencari orang yang membunuh orangtuanya.
“Kapan selesainya kalau model seperti ini. Karenanya api itu bisa diselesaikan dengan air.
Sing wis yo wis (yang sudah ya sudah),
ngapuro-ngapuronan (saling memaafkan), toh PKI itu sudah mati,” ungkapnya.
“
Ora ana dosa turunan (tidak ada dosa turunan). Yang PKI kakek neneknya, kok cucunya tidak boleh. Anak-anak PKI tidak boleh mondok. Anak-anak PKI tidak boleh sekolah, ini namanya tidak adil. Indonesia harus rukun. Ini
dawuh Mbah Chudlori,” pungkasnya.
(sof)