Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Cerita Walikota Depok Dibotak Saat Nyantri di Gontor

Muhajirin Kamis, 07 Oktober 2021 - 14:36 WIB
Cerita Walikota Depok Dibotak Saat Nyantri di Gontor
Walikota Depok Mohammad Idris (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Depok - Bagi kalangan santri ataupun alumni pondok pesantren, hukuman botak gundul merupakan momen paling menakutkan sekaligus mengundang tawa saat reuni. Mayoritas santri yang mendapat hukuman otak karena melakukan pelanggaran berat, seperti keluar pondok tanpa izin atau ketahuan merokok.

Hukuman botak ini pernah dirasakan Walikota Depok, Mohammad Idris, saat masih berstatus santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Pernah suatu ketika jiwa remaja Idris bergelora sehingga memutuskan keluar pondok tanpa izin. Namun nahas, ia tak pandai bersembunyi dari intaian para ustadz.

“Waktu itu, pernah saya dihukum karena keluar pesantren untuk bertanding basket tapi tidak minta izin. Kala itu kita sudah berasumsi jika kita minta izin, tidak akan dikasih. Konsekuensinya dibotakin dan disuruh menyapu di depan rumah Kiai,” kenang Idris seperti dikutip laman Humas Pemkot Depok, Kamis (7/10/2021).

Usai menamatkan Madrasah Ibtidaiyah Jakarta, pria yang lahir di Jakarta pada tanggal 25 Juli 1961 di Jakarta itu memang melanjutkan pendidikan ke Pondok Modern Darussalam Gontor hingga meraih beasiswa studi di Arab Saudi pada 1982. Ia kemudian meraih gelar doktor di Fakultas Syari’ah jurusan Tsaqofah Islamiyyah Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi.

Pilihan Idris melanjutkan pendidikan ke Gontor tidak lepas dari rekomendasi sang ayah, Haji Abdul Shomad. “Bapak dan paman saya memilihkan saya untuk mengenyam pendidikan di Gontor, mungkin dengan pertimbangan karena dari anak-anaknya belum ada yang masuk jurusan agama sebelumnya,”ujar Idris mengungkapkan awal masuk ke Gontor.

Ia merasa senang saat belajar di pesantren tersebut. segala lika-liku kini menjadi kenang yang tak pernah bisa terlupakan. Dari sana ia belajar kedisiplinan, konsekuensi setiap perbuatan, dan apresiasi atas prestasi.

Idris mengaku banyak belajar saat menjadi santri. Apalagi ketika dibotak. Namun pelajaran yang paling disukai adalah pelajaran matematika. Pelajaran favorit yang tak biasa. “Untuk pelajaran umum, saya suka berhitung. Sedangkan untuk Bahasa Arabnya, yang saya senangi itu Imla',” ucap Idris.

Gontor bagi Idris bukan sekadar lembaga pendidikan. Tapi di tempat itu karakter para santri ditempa. Memang tak terasa saat masih berstatus santri, namun puluhan tahun kemudian pendidikan ala pesantren akan terasa manfaatnya.

“Dari pendidikan di Gontor ini saya belajar kaderisasi pemimpin, utamanya bagaimana seorang pemimpin mempunyai kecerdasan sosial, dengan berbagai macam bentuknya,” ungkap Idris. Dari pondok ini pula, ia pernah menjadi pengibar bendera dan pengawal pasukan presiden.

Selain itu, ayah dari 6 orang anak ini pernah melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa. Kala itu ia sudah menjadi Pembina pramuka. Ia dan enam orang kawan melakukan perjalanan keliling Jawa dengan ongkos hanya sepuluh ribu rupiah.

Perjalanan itu dilakukan saat bulan Ramadhan. Rute yang ditempuh diawali dari Ponorogo, Trenggalek, ke daerah selatan dan berakhir di Bandung. Episode ini menjadi salah penggalan cerita yang tak bisa dilupakan Idris.

Tak hanya itu, Idris menyebut Gontor telah mengajarinya cara bersosialisasi dengan masyarakat. Meski kerap mendapat nada tinggi saat diberi instruksi, namun ia mengaku sangat bersyukur pernah dimarahi oleh para kiai.

”Saya banyak mendapat pelajaran dari Pak Kiai bagaimana bersosialisasi dengan masyarakat dengan berbagai triknya. ‘Omelan-omelan’ Kiai pada saat kita melakukan kesalahan, besar maknanya. Seperti masalah etika, kesalahan bertutur kata, ketidakdisiplinan, tidak on time, kita akan dimarahi atau dihukum, itu ternyata bermakna,” ucap Idris.

Dia menilai pendidikan di Gontor sangat korelatif dengan pendekatan pendidikan anak. “7 tahun pertama usia anak, dengan pendekatan bermain. Mengajarkan shalat dan apapun dengan cara bermain. 7 tahun kedua mendidik anak dengan pendekatan kedisiplinan,” ucapnya.

Kemudian, 7 tahun ketiga dengan pendekatan menganggap anak sebagai teman, yakni mengajak anak seperti kawan. “Karena di usia tersebut anak sudah tidak bisa dimarahi, tapi kita rangkul seperti teman. Itulah metode pendidikan di Gontor,” kata Idris.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)