Ramadhan Bercahaya
Membangun Pendidikan Karakter, Meneladani Akhlakul Karimah untuk Masa Depan Indonesia
Esti setiyowati
Sabtu, 21 Februari 2026 - 06:00 WIB
Guru Besar FMIPA UGM Prof Dr Chairil Anwar saat membawakan tausyiah tentang pendidikan karakter di Masjid Kampus UGM pada Jumat (20/2/2026). Foto: tangkapan layar.
Dalam diskursus mengenai pembangunan bangsa, pendidikan karakter seringkali menjadi topik utama. Namun, bagi umat Muslim, rujukan karakter terbaik tiada lain adalah Rasulullah SAW.
Guru Besar FMIPA Bidang Kimia Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Chairil Anwar di Masjid Kampus UGM, menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis akhlakul karimah, merujuk pada teladan Rasulullah SAW.
Sebagaimana hadis beliau yang sangat populer, "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia."
Baca juga: Ramadhan: Jembatan Menuju Perdamaian Antariman dan Reinterpretasi Relasi Muslim-Non Muslim
"Inilah esensi dari pendidikan karakter, melahirkan outcome perilaku yang berlandaskan akhlakul karimah," kata Prof Chairil Anwar di mimbar Ramadhan Public Lecture dalam rangkaian Ramadhan Di Kampus UGM, Jumat (20/2/2026).
Kepemimpinan Berbasis Karakter
Keberhasilan Islam menyebar ke seluruh dunia bukan sekadar karena kekuatan politik, melainkan karena pesona akhlak pemeluknya.
Guru Besar FMIPA Bidang Kimia Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Chairil Anwar di Masjid Kampus UGM, menekankan pentingnya pendidikan karakter berbasis akhlakul karimah, merujuk pada teladan Rasulullah SAW.
Sebagaimana hadis beliau yang sangat populer, "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia."
Baca juga: Ramadhan: Jembatan Menuju Perdamaian Antariman dan Reinterpretasi Relasi Muslim-Non Muslim
"Inilah esensi dari pendidikan karakter, melahirkan outcome perilaku yang berlandaskan akhlakul karimah," kata Prof Chairil Anwar di mimbar Ramadhan Public Lecture dalam rangkaian Ramadhan Di Kampus UGM, Jumat (20/2/2026).
Kepemimpinan Berbasis Karakter
Keberhasilan Islam menyebar ke seluruh dunia bukan sekadar karena kekuatan politik, melainkan karena pesona akhlak pemeluknya.